Sakit Suami

Tanggal 2 Desember 2019 dia ternyata sudah sakit diare dan dibawa ke JIH Solo tanpa kuketahui.

Sabtu, 6 Desember, dia sampai rumah. Tiiba tiba minta celana karena diare dan mengenai celananya. Kesadaraannya belum pulih benar. Tapi kau tak mengerti. Aku pikir suamiku sakit diare biasanya. dia cukup sering diare. Lalu dia minum diapet. Malamnya setiap ke belakang dia minta celana dan akhirnya habis. Aku meminta pakai sarung. Sepanjang malm dia mengigau. Aku dipukul juga. Aku diminta jadi peserta outboundnya. Aku juga kadang ditendangnya. Dia panggil wanita. Aku sempat sakit hati, tapi aku lebih sakit melihat kondisinya. Aku ambil wudhu lalu sholat. Semalaman aku nggak tidur. Apa yang terjadi dg suamiku?

Aku yakin ini bukan cobaan untuk suamiku, tapi untukku. Ya Allah aku mohon ampun dengan kesalahanku ya Allah...

Minggu, 7 Desember pagi aku langsung bawa dia ke UGD. Dia sering mengigau. Katanya, dia sakit diare baru dua hari. Akhirnya, dia tidak diopname.

Seharian kuberikan obat. Tapi tidak membaik. Aku tanya, obat dari JIH kemarin apa. akhirnya keluar satu obat yg belum ada. Langsung kubelikan di apotek. Alhamdulillah mampet.

Selasa 8 Desember, kondisinya belum membaik. Dia masih linglung. Tingkahnya seprti anak berkebutuhan khusus. Badannya masih panas. Suamiku ini sebnarnya sakit apa? Kata orang, sabar ini masih pemulihan. Dia masih belum mau  makan. Tiap pulang sekolah anakku, dia kubelikan jus. Kadang marah, lalu minta yg lain. Dia tidak seperti yg kukenal. Suka marah nggak jelas.

Rabu, 9 Desember. Matanya mulai semburat menguning. aku mulai panik. Suami bukan sakit diare biasa. Aku nyetatus di instagram. Aku berharap ada pencerahan. Suami sempat kujemur. Mugkin dia kurang udara pagi atau panas matahari, mungkin.

Kamis, 10 Desember. Teman temannya datang. Ternyata dia diare sejak tanggal 2. Ya allaaaah.... Suamiku kenapa... Diajak ngobrol temannya masih nggak nyambung. Aku segera telpon beberapa rumah sakit. Bnerharap bisa urus bpjs. Tapi rujukan ke beberapa rumah sakit yg bisa bpjs penuh. Aku takut suamiku sudah tak tertolong. Aku daftar lke rumah sakit swasta yg nggak pake bpjs.

SAbtu, 14 Desember, aku bawa ke rumah sakit. Cek darah. Katanya bakterinya tinggi. Oh iya, waktu itu dia asma tapi nggak sadar. Memarahi mbak yang nebu. Memarahi saya yg mau beli obat.

Senin 16 Desember hasil lab keluar. Dia kena tipes dan menggangu livernya.

Selasa, 17 Desember. dia memaksa ikut pelatihan. Om saya akhirnya menunggu dari pagi sampai malam. 3 hari berturut turut dia ikut pelatihan. Hari pertma kucoba minum obat cacing demamnya turun. Tapi kata saudaranya nggak boleh. Demam lagi. Hari kedua dan selanjutnya akhirnya kuberikan obat cacing dan alhamdulillah demam turun dan kesadarannya berangsur membaik.

KAdang dia sadar, kadang tidak. Dia mmeminta saya bertemu temannya. Katanya seperti mengambang. Saya turuti keinginannya. Mungkin saja dia pengen refresshing. Setelah bertemu temannya ternyata kondisinya memburuk. Ada temannya yang bilang dia kena gejala schizophrenia.Saya mencari temannya tersebut. Ketemu. Dan kujelaskan pelan-pelan. Alhamdulillah pulih lagi.

Dia ke luar kota dengan kondisi belum fit. Sempat khawatir juga. Begitu sampai rumah lagi, dia sudah sehat.

Saya tidak bisa menceritakan rinci di sini karena saya sekarang sudah bahagia. Hehehe. Semoga nanti bisa saya copy dari akun instagram saya ya



0 komentar:

Posting Komentar

 

Total Tayangan Halaman

Live Traffic Blog

Institut Ibu Professional

Institut Ibu Professional
Klik gambar untuk mengetahui kegiatan yang berhubungan dengan IIP

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Komunitas Emak2 Blogger