Kapan Aku S2 dan Bekerja Kantoran?

Assalamu'alaikum

Blog saya makin ke sini makin seperti buku diary, ya... Makin minim iklan. Hahahaha. Emang sengaja sih nggak ikut banyak event. Buatku, menulis untuk kerjaan itu nggak papa, tetapi juga menulis untuk self healing ketika aku terluka. Mungkin dah kebiasaan kali ya, sejak kecil kalau baru sedih nulis diary. Sempat kehilangan tempat ketika nggak punya buku diary dan blog khusus untuk bisnis. Nggak ada tempat mencurahkan perasaan. Akhirnya, boomnya waktu hami ketiga kemarin. Stres yang nggak terduga. Walaupun nggak parah, sih, tapi bikin aku nggak nyaman. A,ku nggak pernah stress kayak gitu. Cerita ke Allah tentu saja iya, tapi selain itu aku juga cerita melalui blog ini.

Nah, beberapa hari yang lalu aku baca blog temen yang depresi gara-gara nggak bisa kerja kantoran. Sebabnya, ngurus anaknya. Ada juga teman yang nyesel punya anak pas dia s2. Akhirnya nggak lulus S2 dan anaknya tiga tiganya jadi special needs karena ibunya depresi.

Saya jadi makin kesini makin saying sama ibu, deh. Ibu yang merawat saya puluhan tahun pasti banyak banget berkorban. Makanya sejak saya punya anak, saya mendadak jadi anak yang jauh lebih berbakti sama orang tua. Karena ya memang jadi orang tua itu sulit.

Ibu saya punya anak 6. Ibu jauh lebih pandai daripada bapak. Tetapi ibu memilih menjadi ibu rumah tangga. Cemoohan ya sering banget didapat. Kuliah waktu itu bukan hal yang mudah karena lama dan juga mahal. Teman-temannya jadi dosen. Ibu 'hanya' jadi ibu rumah tangga, S2? Kerja? Tentu saja ibu pengen. Tapi ibu tetap focus jadi ibu rumah tangga dan mengabdi ke desa kami sebisanya. Ibu jadi guru mengaji tanpa dibayar puluhan tahun. Rumah dibiarkan bebas dimasuki siapa saja yang mau belajar. Buku boleh dipinjamkan siapa saja. Ketika anak terakhir, adek saya yang keenam beranjak besar, ibu saya diangkat jadi PNS. Desa binaannya banyak banget. Jadi ustadzah di kampong mana-mana.

Saya sekarang tentu saja juga pengen S2 dan kerja. Tapi Allah belum mengijinkan. Saya pernah mencoba, tapi Allah belum mengijinkan dengan berbagai peristiwa. Ya, berarti saya ditakdirkan jadi ibu rumah tangga. Kalau ada teman yang S2 atau kerja, ya nggak papa. Berarti mereka memang ditakdirkan untuk S2 dan bekerja. Begitu saja sih mikirnya saya.

Sekarang saya ditakdirkan untuk ibu rumah tangga dan membantu bisnis suami saya. Apakah keinginan saya S2 dan bekerja itu terkubur? Tentu saja tidak. Allah hanya menggeser waktunya saja, Mungkin besok, lusa, terserah Allah saja.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Total Tayangan Halaman

Live Traffic Blog

Institut Ibu Professional

Institut Ibu Professional
Klik gambar untuk mengetahui kegiatan yang berhubungan dengan IIP

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Komunitas Emak2 Blogger

Google+