Self Healing untuk Korban Bully

Assalamu'alaikum

Saya mau cerita di blog lagi. Hehehe. Tadi pagi udah cerita ke sumai, sih. Jadi jalan-jalan pagi sambil pegang HP sambil nangis. Aneh, ya... Saya sebenarnya sudah mengubur dalam-dalam, sih, masa lalu ini. Tapi, kok hamil kali ini banyak sekali yang muncul tiba-tiba. Mungkin itu bully-an tertanam sangat dalam lalu muncul tiba-tiba kalau ada pemicunya. Mungkin, ya.... Sebenarnya kalau kayak gini pengennya dipeluk suami. Tapi apa daya, jauh... Beliau sedang kerja jadi nanti aja, ditahan.

https://www.statisticbrain.com/cyber-bullying-statistics/


Oh, iya. Tulisan ini saya buat agar saya kalau sewaktu-waktu 'kumat' saya bisa membaca dan menyembuhakn diri saya sendiri. Lalu, saya juga bisa lebih menjaga perbuatan saya sehingga saya tidak membully. Dan terkahir saya berharap tulisan saya bisa bermanfaat untuk teman-teman yang pernah bernasib sama, sedang mengalami, atau mungkin orang terdekatnya pernah atau sedang dibully.

Dulu, waktu saya SMA saya memang nggak semangat sih buat ngejar pelajaran sekolah. Saya lebih fokus ke duani tulis menulis saya di karya tulis ilmiah. Sejak SD sampai SMP hobi saya selalu didukung oleh pihak sekolah. Tapi, karena di SMA banyak sekali yang berprestasi jadi memang terkesan tidak diperhatikan. Lumayan capek dan kaget pas awal-awal karena kaau lihat teman-teman dari sekolah lain yang 'dimanja' oleh sekolahnya gimana gitu. Lama-lama terbasa dan malah bangga bisa berprestasi tanpa 'bantuan' dari sekolah.

Nah, ternyata ekstrakurikuler saya ini di sekolah banyak yang nggak suka. Nggak sekali dua kali saya dibully karena ikut ekstrakurikuler ini. Bahkan, saya sampai menjauh dari gank saya karena mereka menjelek-jelekkan ekstrakurikuler yang saya ikuti. Dan yang bikin saya sedih, ketika hobi ke dua saya selain menulis adalah musik. Nah, di pengajian kecil, kalau di sekolah disebut mentoring, mengatakan piano haram. Ini sekolah apa, sih? Saya bingung banget ketika saya nggak bisa berekspresi dengan bebas. Ketika dengan gank saya, saya nggak bisa menceritakan tentang keseruan saya menulis karena mereka membenci ekskul saya. Tetapi ketika di mentoring, saya juga gak bisa bebas berekspresi karena musik pun haram. akhirnya, saya ,encari 'kebahagiaan' di luar sekolah. Saya sering membolos. Saya merasa teman di luar sekolah lebih asyik. Buat saya waktu itu, banyak membolos gak papa yang penting saya tetap jadi anak baik dan berprestasi.Ketika di sekolah, ya saya bersikap seperlunya saja. Nggak ada yang benar-benar deket.

Pada suatu hari, saya salah kirim SMS ke teman laki-laki saya. Dulu saya latah. dan dia sering menggoda saya. Saya sebel luar biasa dengan dia. Nah, tapi dari salah kirim sms tersebut, saya malah keterusan curhat sama dia. Sama sekali gak ada perasaan. Buat saya, ya dia kayak blog saya ini. Buat curhat. Tiap sms dia,, saya jadi lega. Hidup saya normal. Dia juga nggak masalah saya curhati. Toh, kami memang tidak apa-apa. Kami tak ada perasaan apa-apa. Waktu itu justru saya ada hubungan dengan laki-laki lain, kok. Bukan dengan laki-laki ini. 

Tapi, ternyata bocor juga ke orang-orang. Gosip pun beredar kalau saya mengejar=ngejar dia. Maklum lah, dia termasuk laki-laki populer dan banyak fansnya. Bahakan, ada fans clubnya. Fans club yang biasa, yang berjilbab kecil, ngga terlalu parah. Tetapi yang jilbabaer ini yang melakukan fotnah besar-besaran. Samapai kuliah. Awalnya, saya cuek karena teman laki-laki saya ini juga nggak ambil pusing. Tapi ternyata, fitnahan ini sampai juga ke sahabat-sahabat saya yang di luar sekolah, waktu kuliah sampai dibahas di liqo-liqo dan sampai ke teman-teman saya di ekstrakurikuler waktu kuliah. Untunglah banyak yang konfirmasi. Saya nggak tahu kenapa mereka 'mengghibah' saya padahal suasana pengajian kecil? Emang nggka ada yang dibahas? Kenapa mereka mengganggu saya padahal saya nggak pernah menggagu mereka. Karena nggak kuat dengan fitnahan yang ada, saya kembali bercerita dengan teman laki-laki saya tersebut. Katanya ada perempuan alim yang sudah tunangan dengan laki-laki yang biasa saya curhati. 

Laki-laki tersebut bilang tidak. Dia tidak pernah berpacaran dengan siapapun. Justru dari bully-bullyan tersebut hubungan saya dan laki-laki tersebut malah makin dekat. Saya sering bertemu dengannya cuma mau curhat. Tapi, bullyan makin besar. Saya dibilang memberi pengaruh buruk pada laki-laki yang saya curhati ini. Saya minder luar biasa karena dikatakan wanita penggoda. Padahal jilbab mereka besar, kata-kata mereka kalau di depan orang-orang manis, bahkan mengisi semacam pengajian, bisa-bisanya mereka mengatakan dan menyakiti saya sebegitunya. Apa salah saya?

Karena saya dan laki-laki tersebut sering bertemu akhirnya benih-benih cinta pun muncul. Kami akhirnya memutuskan menikah. Tapi saya tetap takut dengan teman-temannya. saya takut banyak yang mendoakan buruk pada pernikahan kami. apalagi banyak sekali teman-temannya yang mengatakan saya nggak pantas dengannya. Akhirnya, saya nggak berani mengundang teman-temannya. Saya tidak mau ada doa jelek di antara kami. Saya menikah dengan suami saya. Saya sangat bahagia dengan suami saya. Awal-awal meikah bayak sekali yang nggak terima. Ada yang bilang langsung bilang turut berduka lah, dan lain-lain. Saya takut doa mereka lebih kuat dari saya. saya takut rumah tangga saya berantakan karena doa-doa jelek mereka. Untungnya suami saya terus meyakinkan saya walaupun gangguan terus datang. Lama-lama saya mulai terbiasa dan sudah mengacuhkannya. Bagi saya, saya dan suami yang mempertemukan Allah, pasti Allah akan menjaga pernikahan kami. Saya berharap, saya selalu pantas menjadi istri suami saya, yang kata teman-temannya saya nggak pantas. 

Hampir lima tahun pernikahan kami. Tak pernah ada pertengkaran yang berarti. Saya merasa bahagia walaupun LDR. Di kehamilan ke dua ini saya tiba-tiba sering merasa down hanya karena perkataan yang menohok. Beberapa hari yang lalu, ingatan tentang pembully-an itu keluar lagi. Saya sekarang 37 minggu kehamilan. Saya takut kalau saya sudah tidak pantas dengan suami saya lalu mati ketika persalinan nanti. saya ketakutan. Entah kenapa....

Tadi pagi saya menghubungi suami menanyakan hal-hal yang mungkin menurt dia nggak penting tapi snagat penting untuk saya...

"Apa aku pantas buat jadi istrimu terus?"
"Apa kamu benar-benar mencintaiku?"

Kalau suami menyepelekan pertanyaan suami saya, mungkin dia gak bales atau menjawabnya dengan bercanda. Untunglah dia tahu betul kondiis saya sedang bagaimana jadi dia membalas dengan sangat tegas dan itu membuat saya lega. 

Setelah itu saya meminta kepada Allah agar saya pantas untuk selalu mendampingi suami saya. Saya lebih tenang ketika sholat Dhuha dan mengaji. Setelah itu saya menulis ini. Semoga setelah ini saya sudah lega, ya.... 

Semoga kita bukan termasuk orang yang suka membully orang lain, ya... Walalupun bentuknya ghibah, ternyata sangat sakit dan bisa muncul sewaktu-waktu. Apalagi secara langsung, ya.... Mungkin lidah bisa mngatakan maaf, tapi sakit hati yang terlalu dalam, susah sekali untuk sembuh. Apalagi kalau berkali-kali dan berlangsung lama. Buat saya sekarang, memaafkan dan menetralkan hati paling penting. Obat hati ya tentu saja dengan mengaji dan meminta kepada Allah agar luka ini segera sembuh. Aamiin. Bagi saya, Allah memang tempat teramuh untuk kembali. Kalau saya, berdoa sampai hatinya nyeeesss gitu kayak dikasih es, nanti biasanya langsung tenang. 

Begitulah kisah saya. Semoga bisa bermanfaat, ya... Kalau nggak bermanfaat ya dibuang aja. Hehe.

Salam,

Liyaswandari

0 komentar:

Posting Komentar

 

Total Tayangan Halaman

Live Traffic Blog

Institut Ibu Professional

Institut Ibu Professional
Klik gambar untuk mengetahui kegiatan yang berhubungan dengan IIP

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Komunitas Emak2 Blogger

Google+