Mengatasi Pregnancy Blues ala Liyaswandari



Pregnancy blues itu adalah kondisi ketika seorang ibu hamil merasa depresi berat akibat kehamilannya. Gejalanya biasanya insomnia/susah tidur, merasa sedih dan lelah tanpa alasan sepanjang hari, kehilangan nafsu makan atau malah jadi makan berlebihan, dan kalau sudah parah tidak jarang ingin melukai dirinya sendiri. Biasanya pregnancy blues diderita oleh wanita hamil yang sedang mengalami masalah besar seperti kehilangan pekerjaan, jauh dari suami, suami selingkuh, dll. (Sumber: http://ibuhamil.com/ngobrol-apa-saja/111193-seputar-pregnancy-blues.html)

https://id.pinterest.com/pin/110338259595436157/

Hamil yang sekarang memang sangat berbeda dengan dua kehamilan saya sebelumnya yang santai bangeeet. Saya mengalami pregnancy blues sejak tahu bahwa saya hamil. Padahal, kehamilan ini sangat saya nanti nantikan. Akan tetapi terlalu banyak kekhatiwatiran terhadap saya sendiri. Alhamdulillah ketika memasuki bulan ke delapan, pregnancy saya ini sembuh total. Alhamdulillah...

Saya akan menceritakan kronoli agar lebih runtut. Saya berbagi bukan untuk pamer atau apa lah. Saya hanya ingin berbagi cerita kali aja ada yang samaan lalu baca blog saya dan bisa sembuh sama-sama. 

Pertama,

Saya hamil ketika saya harus pindah tinggal di rumah mertua karena kamar saya yang di rumah orang tua saya harus ditempati nenek saya. Nenek saya memang tidak suka dengan saya karena saya tidak kaya. Setiap hari saya dibandingkan dengan sepupu saya dan membuat saya stress. Karena tidak kuat, akhirnya saya tinggal di rumah mertua saya. Oh, iya. Saya belum punya rumah karena sejak menikah mertua saya tidak mengijinkan kami punya rumah. Suami saya yang jauh, LDR, membuat mertua saya kesepian sehingga berharap saya dan anak saya menjadi penggantinya. Tapi tak semudah itu. Tanpa suami, tinggal di rumah mertua saya pun tertekan. Apalagi ditambah mual-mual hebat! Saya tidak berani minta tolong kalau ada yang saya butuhkan. Mual-mual yang tak henti membuat saya stres sehingga asi saya jelek. Padahal saya masih menyusui. Anak saya sakit asma semakin sering kambuh. Pada suatu hari asama saya yang nggak pernah kambuh ikut kambuh. Padahal saya mual-mual hebat. Saya di oksigen, nebulizer sampai tiga kali tempo kurang dari 24 jam. Anak saya untung bersama bulek saya. Saya, dengan om saya. Dokter menyarankan saya segera ke dokter kandungan karena makanan saya tidak bisa masuk sama sekali. Akhirnya saya meminta suami dengan sangat untuk pulang.

Kedua,

Curhatan dari teman-teman yang terkena CMV sebenarnya membuat saya bahagia karena tulisan saya masa lalu tentang CMV bermanfaat dan membuat orang lain semangat. Tapi ternyata jika tidak pintar menyaring, masuk ke alam bawah sadar dan membuat ketakutan pada diri saya yang sangat luar biasa. Saya takut anak saya cacat, keguguran lagi, meninggal, bahkan saya sendiri yang meninggal. Ketakutan ini sama sekali tidak bisa saya kontrol. saya jadi suka marah-marah sendiri setiap ada yang "menakut-nakuti" saya. Apalagi sebelumnya saya SC. saya takut sobek jahitannya lah, dsb. Sementara suami saya sangat sibuk dan saya tidak berani mengganggu. Tapi saya harus menghubungi suami untuk meminta tolong. alhamdulillah suami peduli dan mau pulang.

Ketiga, 

Suami bekerja di dunia hiburan. Tak sedikit godaan yang datang. Suatu ketika dia menceritakan diajak temannya untuk karaoke plus-plus. Kemaksiatan yang dilakukan teman-temannya membuat saya khawatir. Ketika sampai rumah suami sama capek dan hanya tidur. Semalam. Lalu berangkat ke Jakarta lagi padahal sebulan dia belum pulang. anak rewel karena kangen. suami saya tentu saja masih sholat, tapi kualitasnya memburuk. Saya sedih sekali. Bagaimana saya nanti ketika meninggal? anak saya diasuh siapa? Kalau anak saya diasuh suami yang kualitas agamanya memburuk lalu nasib anak saya gimana? Kalau suami saya tergoda perempuan lain bagaimana? Buat masalah uangnya, bukan masalah pekerjaannya. Suami saya seoertinya sudah mulai kalah dengan pergaulannya. Jelas tidak sehat. Saya memintanya untuk resign dan kembali berkumpul dengan orang sholeh agar uangnya berkah. alhamdulillah allah membukakan hatinya dan beliau resign kerja. Sampai Jogja suami saya juga langsung dapat kerjaan. Tapi ternyata tak sampai di situ. Ada temannya wanita yang curhat dengan dia ketika saya menyapih hari pertama anak saya. Saya merasa dicampakkan padahal hamil saya mulai besar sedangkan anak saya butuh gendong seharian. Perempuan itu sama sekali gak sopan curhat malam-malam pdagahal suami saya jarang pulang. Saya sudah menceritakan di blog sebelumnya karena memang terapi saya menulis. Alhamdulillah suami saya sudah tidak mau mendengarkan lagi. Saya mulai tenang.

Lalu bagaimana terapi saya agar terlepas dari Pregnancy Blues?

Pertama, berdoa dan minta tolong kepada Allah

Saya berkali-kali meminta petunjuk kepada Allah apakah langkah saya benar meminta suami saya resign dari kerjaann? Saya takut berdosa dan egois. Allah semakin menuntun saya saya dan menunjukkan bahwa pekerjaannya tidak baik untuknya. Anak saya juga sering kali sakit ketika kangen ayahnya. Berbagai terapi hingga habis jutaan tapi tak menyembuhkan anak saya. Tetapi ketika suami saya pulang anak saya langsung sembuh.

Kedua, lepas dari HP

Allah tiba-tiba membuat rusak hp saya. saya tidak memakai HP kurang lebih tiga bulan. Kondisi saya sangat membaik. Saya tidak perlu mebaca apa yang tidak saya baca, dan mendengar apa yang tidak perlu saya dengar. Suami saya awalnya gak terlalu peduli dengan hamil saya karena kehamilan saya yang pertama dan kedua memang sama sekali tidak pernah mengeluh. Tapi suatu hari bidan mengatakan bahwa kondisi saya sangat buruk. HB saya rendah. Janin saya kekecilan. Saya menangis sambil berdiri dan suami saya sepertinya sadar kalau kehamilan saya memang berbeda dengan kehamilan sebelumnya. Sejak saat itu suami juga lebih fokus dengan saya. Saya juga lebih fokus dengan kehamilan saya dan kesehatan anak saya. anak saya sudah tidak pernah sakit karena lebih sering bertemu ayahnya. Muntah-muntah saya juga berkurang. HP yang diapakai berdua juga membuat saya tenang. Suami jadi lebih paham hobi saya. Saya juga lebih paham hobinya. Kami lebih mengerti. Lima tahun pernikahan seperti pengantin baru. Kami mengetahuo hal-hal baru,

Tapi aku sempat kambuh ketika perempuan itu menghubungi suamiku lagi. aku sebel sekali. aku sih percaya suami nggak akan berpaling. Tapi kalau dipepet terus kan nggak tahu. Karena HP milik berdua jadi saya sempat membalasnya dan mengtakan kepadanya kalau tindakannya mengganggu. Tapi nggak ada kata maaf darinya. saya sempat sebal bahwa jilbab besar dan bergamis bukan jaminan seseorang paham agama dan tidak mengganggu rumah tangga orang lain. Akhirnya saya memilih untuk menennagkan diri dengan mebguatkan cinta dan kepercayaan terhadap pasangan. Nomor perempuan itu diblok saja lah. Urusan selesai. Saya tidak mau terganggu lagi.

Ketiga, makin mendekatkan dengan Allah dengan meningkatkan aktivitas agama (tak perlu diceritakan lah, ya...)

Keempat,berkumpul dengan teman-teman yang positif
 

Saya mulai ikut kegiatan yang membuat saya bahagia lagi. Saya bertemu sahabat saya, Tyas, buat jalan-jalan di mall bareng anak saya. Saya bertemu IIDN untuk belajar bersama menulis anak. Saya juga bertemu teman-teman blogger untuk saling berbagi. Hal ini sangat membahagiakan saya. Saya sudah kembali pulih.
Saya sama sekali tidak menyesali Allah memberi kesempatan saya mengalami pregnancy blues ini karena saya mendapatkan hikmah yang luar biasa. Allah memberi cobaan tentu saja banyak pesan yang ada di dalamnya. 

Pertama, ketika berkeluarga dan sudah mempunyai anak, mimpi tidak hanya milik satu atau dua orang saja, tetapi juga anak. Anak memiliki hak untuk mendapatkan kasih sayang penuh dari ayah dan ibunya. Iya, memang saya tidak mungkin sepenuhnya bisa tidak LDR-an dengan suami karena memang kerjaan suami saya jadi instruktur outbound. Tapi kami sekarang lebih mengerti bagaimana membagi waktu untuk anak. 

Kedua, komunikasi kami sebnarnya sudah cukup baik tetapi Allah memperbaiki lagi dengan saling 'care' satu sama lain. Selama ini, kami terlalu cuek dan terlalu percaya sehingga kalau ada godaan ringan kami mungkin menganggap sepele. Padahal, sebenarnya dari hal sepele semuanya jadi besar. Mulai sekrang kami lebih peduli dengan 'godaan-godaan" tersebut. Saya jadi memahami kenapa banyak pelakor. Ya karena mungkin pasangan resminya terlalu cuek dan percaya. Dan sebagai pasangan tentu saja hal itu kurang baik. 

Ketiga, hubungan saya dengan Allah, keluarga, dan teman-teman jauh lebih baik.

Keempat, asma anak saya sembuh. Kalaupun kambuh, kami tahu sebabnya. Kangen ayahnya, laaah. Itu artinya ayahnya harus segera pulang.

Kelima, perasaan cinta saya semakin besar dan membuat saya bahagia. Perasaan cinta saya kadang bikin saya tersiksa karena saya jauh dari suami. Kadang saya harus membuangnya karena saya takut rindu dan mengganggu pekerjannya, Saya hanya bisa marah-marah kalau suami pulang karena saking kangennya. Sekarang saya semakin bisa mengendalikan walalupun ya kangennya masih, sih. Marah-marahnya jugaaak. Hahaha. Tapi kayaknya nggak sekasar dulu. Semoga. Aamiin.

Kelima, saya makin rajin olahraga dan merawat tubuh. 
Allah memberikan cobaan tentu ada maksud di dalamnya. Saya bersykur kami berdua eh bertiga ding sama anak saya, dapat melewati ini semua. Tentu saja tidak mudah, tapi juga tidak sulit karena Allah selalu ada untuk kami. 

Insya Allah saya segera melahirkan. Semoga saya dan anak kedua saya selamat dan sehat. Saya bersyukur kehamilan saya mempunyai cerita yang berbeda-beda sehingga saya bisa menceritakan kepada dunia pengalaman manis ini. 

Makasih Allah...

Sleman, 17 April 2018
10.29 pm
Liyaswandari

0 komentar:

Posting Komentar

 

Total Tayangan Halaman

Live Traffic Blog

Institut Ibu Professional

Institut Ibu Professional
Klik gambar untuk mengetahui kegiatan yang berhubungan dengan IIP

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Komunitas Emak2 Blogger

Google+