Jangan Terlalu Baik dengan Orang, Nanti Kecewa

Entah kenapa kekecewaan saya ini terlalu besar. Rasanya tidak bisa memaafkan sama sekali perbuatannya. Padahal, biasanya saya cuek. Apa ini ya rasanya dikhianati? Hahaha. Bahkan, saya sampai ketakutan kalau ketika melahirkan nanti saya meninggal, teman-temannya akan menjodohkannya padanya. Apaan sih?

Kenapa saya begitu kecewa?

1. Dia orang yang terkenal baik dan mungkin kalau saya curhat ke orang yang kenal dia nggak akan ada yang percaya kalau dia menyekiti saya sebegitunya
Dia baik sama saya, dengan orang lain juga. Bahakn terkenal bijaksana. Tapi, dia bisa melakukan itu kepada saya. Mungkin itu sifat aslinya. Bisa-bisanya mengganggu rumah tangga orang lain tanpa merasa bersalah justru merasa lebih dekat dengan suami saya. Sangat berbahaya. Saya jadi paham fenomena akhir-akhir ini justru ketika suami selingkuh dengan orang dekat. Menjadi wanita seperti saya ini memang mudah dikelabuhi sampai tidak tahu mana yang benar-benar baik mana yang tidak. Untunglah semuanya cepat disadari sehingga tidak berlangsung terlalu jauh. Untunglah suami juga nggak ada perasaan apa-apa. Alhamdulillah.

2. Saya membaca quote teman saya yang mengatakan bahwa

"Belum tentu orang yang beriman masuk surga, karena pahala bisa terhapus oleh kesombongan.
Belum tentu pendosa masuk neraka, karena dosa bisa terhapus oleh tobat."

Ya, begitulah manusia. Kita jangan terlalu berprasangka baik terhadap apa yang dikenakannya. Jilbab besar, gamis, tampang manis, perkataan lembut. Manusia tidak ada yang sempurna. Belum tentu dia teman baik yang akan membawa kita ke surga. Begitu juga dengan teman yang mungkin belum berjilbab, mungkin merokok, atau perbuatan yang kita anggap tercela. Bisa jadi dia baik untuk kita dan membawa ke surga.

Tamparan juga untuk saya agar saya selalu belajar dan jangan pernah merasa lebih baik dari orang lain karena yang tahu timbangan pahala dan dosa hanyalah Allah dan malaikat. Jika kagum dengan orang ya biasa aja. Baik dengan orang ya biasa aja. Nggak suka ya biasa aja. Nggak usah terlalu berlebihan. Nanti jadinya sakit, kayak saya. Hahaha.

https://perkarahati.wordpress.com/2013/11/14/jangan-jadikan-prasangka-sebagai-bukti-kebenaran/

3. Hanya Allah Tempat Bergantung

Memang kecewa kalau kita berharap dengan manusia. Dengan teman kita, dengan lingkungan kita. saya nggak terkenal baik, dia terkenal baik. Pasti saya yang akan salah. Citra dari orang memang tidak penting. Saya harus belajar bodo amat dengan semua orang. Toh yang akan membela juga cuma lingkungan dia. Yang tahu salah dan benar hanya Allah. Jadi, daripada memikirkan dia lebih baik atau tidak, saya keliatan baik atau tidak, lebih baik saya memikirkan kebaikan untuk saya sendiri. 

Tapi emang serem sih bullyan teman-teman suami saya. Jadi dulu waktu saya dekat dengan suami saya, banyak yang nggak setuju. Sahabat saya kan satu jurusan dengan suami saya. Dan emang di kampusnya banyak yang suka sama suami saya karena memang laki-lakinya dikit, kan? Saya dan sahabat saya memang nggak kelihatan bersahabat, sih. Kami nggak terlalu koar-koar. Trus, mungkin mereka menganggap kami berbeda. Jadi, memang nggak ada yang nyangka sama sekali.

Nah, sahabat saya ini diajak nggosip, eh kok yang digosipin saya. Yang nggosip orang yang di depan baik baik banget dengan saya. Bahakan ada yang bersahabat.Jahat, ya? Aduh, nggosipinnya jelek-jelek banget. Saya sampai nangis cerita ke suami saya yang waktu itu calon suami saya. Saya sebnarnya ingat waktu itu, sih? Tapi saya tenang karena cuami saya bilang, kalau yang akan menikah saya dan dia, dan akan tetap menikah. Dia kenal betul saya dan saya tidak mungkin seperti itu saya nggak menyangaka kalau jilbab besar dan gamisnya, liqonya, dan pernuatan yang tampak alim di luarnya mengatakan hal yang sangat buruk seperti itu. 

Dan kemarin terulang kembali saat saya keceplosan tentang perbuatan seorang"geng" nya ke saya. Saya deh kena semprot. Harusnya saya tidak perlu cerita ke mereka. Toh, mereka akan emnganggap saya tidak pernah baik walaupun ada berjuta kebaikan yang akan saya lakukan. Jadi, lebih baik saya fokus dengan diri saya sendiri. Pembullyan itu serem, ya... PAdahal gak langsung. Tapi saya angat trauma. 

4. Mungkin karena dia menyakiti anak saya.

Ya, waktuu itu posisinya anak saya rewel dan kalau dia rewel dia kumat asamanya. saya kondisinya juga sedang hamil. Berat badan janin saya kurang. Saya takut sekali ada apa-apa dengan anak saya dan janin saya. Kalau dia mau minta maaf, maunya minta maaf ke anak-anak. Tapi boro-boro minta maaf. Saya ingatkan aja malah nyolot dengan dalil agama. Jangan sampai ya kita melakukan dosa dengan membawa bawa nama Allah. Dan benar, anak dan janin saya kenapa-napa. Saya lumayan stres sih waktu itu. 

Nah, itu kenapa saya masih begitu kecewa. Mungin karena saya sudah hamil juga. Alhamdulillah sekarang sudah berkurang banyak dengan rutin menulis seperti ini. Saya nggak mau pamer tapi cuma mau berbagi agar kalau ada yang bernasib seperti saya menemukan sedikit solusinya.

Semoga bermanfaat, ya... Kalau nggak bermanfaat ya buang aja... Hehehe.

Salam,

Liyaswandari

0 komentar:

Posting Komentar

 

Total Tayangan Halaman

Live Traffic Blog

Institut Ibu Professional

Institut Ibu Professional
Klik gambar untuk mengetahui kegiatan yang berhubungan dengan IIP

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Komunitas Emak2 Blogger

Google+