Adab Istri yang LDR dan Sudah Menikah dengan Laki-laki Lain


Postingan ini saya buat untuk mengingatkan saya sendiri seandainya suatu saat nanti nanti saya kepleset. Selama saya LDR alhamdulillah banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan. Banyak sekali pelajaran berharga dan semoga pengalaman saya bisa menjadi pelajaran teman-teman semua yang mungkin senasib dengan saya.

Bagaimana adab curhat?

Jadi sebenarnya kemarin waktu saya sedang mual-mualnya karena hamil muda, saya juga pas dengan menyapih anak. Janin saya beratnya kurang, Mungkin karena capek dan juga menyusui. Alhamdulillah anak saya yang pertama sudah 25 bulan dan siap untuk disapih. Saya juga menunggu suami saya pulang agar anak saya tidak merasa shock. Hari pertama tentu saja berat. Saya harus menggendong anak. Badan saya yang lemas karena muntah-muntah, menjadikan saya tidak terlalu kuat untuk menggendong anak. Saya sangat membutuhkan suami saya. Tiba-tiba ada teman suami yang tiba-tiba curhat. Saya awalnya agak kesal karena suami punya waktu untuk saya hanya sebentar tapi kok lebih meladeni orang lain.suami akhirnya cerita dan memang masalahnya berat. saya pikir awalnya memang untuk dipecahkan. Tapi big no! Hanya pemberitahuan saja dan butuh didengarkan. Seharusnya, perempuan itu tahu waktu lah... Kalau hanya pemberitahuan kan nggak harus malam-malam dan ceritanya menggantung? apa ya gak tahu kalau saya dan suami itu LDR-an? Wong ya kenal udah lama....'

Ketika masalahnya mau dibantu nggak dijawab. Maksudnya apa? Caper? Akhirnya suami saya minta untuk memutuskan hubungan saja daripada mengurusi orang lain. Saya dan suami nggak ambil pusing juga. Tapi kok menghubungi lagi. Ini maksudnya apa? Saya akhirnya yang bilang setelah menghubungi ketiga atau keempat kalinya saya nggak tahu. saya sudah mulai terganggu dong. Saya dan suami waktunya hanya sebentar. Memang nggak ada teman curhat lain? Yang saya dapatkan bukan permintaan maaf tapi penjelasan panjang lebar yang saya juga nggak mau dengar. 

Nah, perempuan ini juga pernah datang ke rumah sendirian. Untunglah suami nggak ada di rumah. dan itu menimbulkan fitnah. Ya,,, Kita boleh saja berteman ketika masa muda. Hanya berteman, ya. Bukan pacaran. Apalagi kalau sudah tahap pacaran. Tapi ketika teman kita sudah menikah, jangan sok sokan masih memiliki hubungan dekat apalagi sok lebih tahu teman kita daripada istrinya. Jika ingin datang ke rumahnya, ajaklah suami atau teman lain. Hal ini sangat rawan fitnah. 

saya juga punya kok sahabat laki-laki waktu sekolah atau SMK dulu. Tapi stelah menikah, tidak pernah sekalipun kami bertemu kondisi berdua. Kalau tidak mengajak suami saya ya dengan teman saya. Apalagi LDR. Kita harus pintar menjaga kelakukan kita yang tampak. Tidak hanya hati saja yang dijaga.

Ketika sudah menikah, kita juga harus menjaga perasaaan pasangan kita dan juga perasaan istri atau suami teman kita. Jangan mentang-mentang dulu pernah berteman baik lain lalu seenaknya saja. Bagaimanapun hubungan laki-laki dan perempuan itu ada aturannya. apalagi sudah menikah. Curhat dengan lawan jenis itu BIG NO jika masih ada yang perempuan.'.  

Ya ampuuun ribet banget sih cuma masalah curhat. eeeh, jangan salah. Banyak banget lho masalah perselinguhan hanya karena merasa keluarga orang lainnyaman dengan curhat ke orang lain.

saya nggak asal ngomong, ya... Bagi anda yang masih hobi sama suami orang atau laki-laki yang bukan suami anda padahal udah bersuami, ada tips-tips, nih. 

1. Ikut Komunitas yang Semuanya Perempuan

Sekarang banyak banget, ya, komunitas yang semuanya perempuan. Membernya juga banyak. Saya aja ikut empat komunitas membernya perempuan semua, kok. Kalau dari sekian banyak perempuan itu nggak cocok dan lebih memilih curhat dengan yang bukan mahramnya ya berarti emang harus periksa, deh. Hehehe. Karena dari jutaan orang masa nggak ada yang cocok, sih? Masa memilih laki-laki yang bukan mahramnya?

2.  Hapus atau Blok Nomor 

Jika sudah ketergantungan bisa hapus atau sekalian saja blok. Bukan memutus persaudaraan, ya. Mnejaga keluarga orang lain kan baik. Sekaligus menjaga kelakukan diri sendiri agar tidak menjadi pelakor. 
3. Meminta kepada Allah agar Jika Melakukan Kesalahan Langsung Dihukum

Allah adalah sebaik-baiknya penjaga. Jadi, kalau memang nggak bisa nahan, banyak ngaji, dan sholat agar perilaku kita dijaga oleh Allah sehingga tidak mengganggu keluarga orang lain.
Bagaimana kalau kita pergi bergaul dengan orang lain?

Kalau saya setiap pergi ke mana pun saya laporan ke suami. Ke mana pun perginya saya selalu laporan. Sering banget sih nggak direspon tapi alhamdulillah suami ternyata baca, kok. Pernah saya sengaja nggak lapor ternyata suami nunggu. Hahaha. Ya karena memang nggak ke mana-mana, sih. 
trus, nggak boleh gitu ketemu laki-laki? Urusan bisnis gimana?

Ya boleh, dong. tapi jangan berdua aja. Saya juga pernah kok ikut sekolah fotografi yang banyak banget laki-lakinya. Walaupun akhirnya nggak tahan juga sih karena saya nggak nyaman kalau nggak banyak perempuannya. Saya juga pernah ikut komunitas menulis yang campuran juga. Dan itu juga saya nggak nyaman. Tapi ya nggak papa diteruskan bagi yang bisa menjaga diri. Waktu itu saya selalu lapor ke suami. Apa yang saya lakukan dan di mana. Pernah juga urusan bisnis dan harus ketemu berdua. Saya kahirnya ngajak adik dan dan supir saya. Teman saya juga mengajak teman laki-lakinya. Saya sih yakin kalau selain saya dia nggak mungkin ngajak teman laki-lakinya. Jadi, sebenarnya kalau kita sendiri menjaga, orang lain pun juga akan menjaga.Kalau kita menjaga kehormatan untuk suami kita, Allah pasti akan mempertemukan kita dengan orang-orang yang menjaga kita. 

Semoga kita termasuk orang-orang yang menjaga kehormatan kita, tak hanya jilbab dan gamis yang besar, tetapi juga menjaga perilaku kita. Aamiin.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Total Tayangan Halaman

Live Traffic Blog

Institut Ibu Professional

Institut Ibu Professional
Klik gambar untuk mengetahui kegiatan yang berhubungan dengan IIP

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Komunitas Emak2 Blogger

Google+