Hamil Belum?



Hamil Belum?

Itulah pertanyaan selama dua tahun yang saya rasakan setelah menikah. Bulan pertama hingga ke tiga, saya merasa biasa-biasa saja karena saya merasa masih muda waktu itu. 23 tahun, usia saya. Masih banyak yang belum dikaruniai anak. Hingga suatu saat ada yang mengatakan kepada saya, " kalau satu tahun belum hamil harus periksa." 

Sejak saat itu, saya mulai mempunyai keinginan yang sangat besar untuk hamil. Mendampingi suami yang menyelesaikan skripsi ketika pulang ke Jogja, saya seperti usaha sendirian. Saya tidka begitu menuntut suami agar ini itu. Bagi saya, suami saya suami terhebat! Beliau bekerja di Purwakarta dan seminggu sekali pulang untuk menyelesaikan skripsi. Saya, di Jogja masih bekerja untuk menyelesaikan kontrak bekerja.

Tujuh bulan setelah menikah, alhamdulillah saya hamil. Betapa bahagianya hati kami berdua. Saya memutuskan untuk ikut suami di Purwakarta. Tepat dua seminggu sebelum suami pendadaran, saya keguguran ketika usia janin anak kami 3 bulan. Sungguh tidak mudah untuk menerima kenyataan ini. Saya kuat karena untungnya ketika saya keguguran, suami mendampingi saya di Purwakarta. Saya bersyukur suami saya sangat siaga dengan kehamilan saya waktu itu.

Saya memutuskan untuk di Jogja terapi pasca keguguran. Tepat satu hari sebelum pendadaran suami, hasil tes darah muncul saya terkena CMV. Salah satu virus TORCH yang ditimbulkan oleh unggas. Besar kemungkinan, virus tersebut dari telur setengah matang. Awalnya, saya biasa saja, tetapi ketika banyak yang mempertanyakan tentang kondisi saya, saya jadi menyalahkan diri sendiri. Seolah-olah saya membunuh janin saya sendiri. Saya sedih sekali. Diam-diam suami saya pun juga sedih karena merasa tidak bisa menjaga saya. Pendadaran pun kacau balau. suami tidak konsentrasi. Hingga akhirnya pendadaran harus diulangi.

Sungguh tidak mudah kami berdua harus LDR dengan kondisi yang seperti ini. Pertanyaan "Hamil, Belum" menjadi momok bagi kami. Ketika saya menceritakan kondisi saya yang belum bisa hamil karena masih ada virus tidak sedikit yang justru menyalahkan saya, bukan memberikan semangat.

Setiap bulan kami harus menyisihkan uang yang tidak sedikit untuk cek darah TORCH, obat, dan biaya pengobatan. Alhamdulillah bulan ketiga, CMV saya igmnya sudah negatif. Saya memeluk suami saya ketika dokter mengatakan "sudah boleh hamil lagi".

Semangat kami mulai naik. Suami mulai semangat lagi memperbaiki skripsi yang sudah selesai dan pendadaran ulang. Saya juga diterima bekerja kontrak 6 bulan bekerja di konsultan wisata Jogja. Setiap suami pulang, kami melakukan usaha agar kami hamil lagi. Kami tidak minum obat untuk program hamil. Kami hanya melakukan posisi posisi yang kira-kira kami bisa hamil lagi. Tetapi rejeki hamil datang kepada kami. Ketika suami pergi, pertanyaan "Hamil, Belum?" membuat saya seketika menangis. Yang saya lakukan hanya bisa telpon dan menangis kepada suami,

Rejeki tahun itu memang bukan hamil, melainkan suami wisuda! Ya, suami wisuda pada tahun 2014. saya bangga padanya. sangat bangga padanya. Setelah kontrak bekerja saya selesai bertepatan dengan suami saya wisuda, saya dibawa suami saya ke Purwakarta lagi. Saya berharap ketika bersama suami saya, kami akan lebih rutin berhubungan dengan suami saya dan emosi saya menjadi stabil.

Ketika di Purwakarta, saya snagat bahagia. Walaupun pertanyaan "Hamil, Belum?" masih saja membuat saya menangis. Bahakan, ada yang bilang, kalau sudah pernah keguguran susah untuk punya anak lagi. Alhamdulillah suami tidak jauh dengan saya. Saya bisa dengan cepat memeluknya tanpa terhalang jarak.

Dua bulan di Purwakarta, ada keputusan dari kantor suami yang mengatakan bahwa suami harus pindah ke Jakarta. Saya tidak mungkin ikut ke Jakarta. Barang yang berada di kontrakan Purwakarta dibawa pulang ke Jogja. Ya, saya harus menerima kenyataan bahwa kami harus LDR-an lagi. Saya sudah pasrah saya hamil atau tidak. Jadwal pulang pun tidak menentu. Saya kadang marah jika ditanya "Hamil, Belum?" Hingga saya menyibukkan diri ke kegiatan yang minim pertanyaan "Hamil, Belum?"

Bersama Komunitas Emak2 Blogger
Saya menjauhi kondangan. Kalau ada undangan, saya harus datang dengan suami saya. Jika tidak, bisa dipastikan ketika pulang saya menangis sambil telpon suami saya. sungguh, saya tidak kuat jika ada pertanyaan, "Hamil, Belum?"

Saya memenuhi kegiatan saya dengan berbagai kesibukan, mulai dari berkumpul dengan Komunitas Emak2 Blogger, Ibu-Ibu Doyan Nulis, hingga menjadi ditributor baju muslim. Saya juga menerima orderan tulisna untuk buku dan ilustrasi.

Ketika saya sibuk-sibuknya berjualan baju muslim, saya merasa masuk angin. saya mengantarkan baju ke jalan wonosari yang jaraknya sekitar 30an km dari ruamh saya. Ketika pulang saya sek testpack, dan ternyata SAYA HAMIL!
  
Saya sangat senang. Suami saya telpon dan beliau pun bahagia.

"Dek, jangan dishare di sosmed dulu, ya. Kasihan teman-teman kita yang belum hamil."

Ya, kami pernah di posisi mereka. Teman-teman mengetahui saya hamil ketika perut saya sudah membesar. saya juga berjanji tidka akan menanyakan ke teman-teman kami yang baru saja atau sudah lama menikah dengan pertanyan, "Hamil, Belum?"

0 komentar:

Posting Komentar

 

Total Tayangan Halaman

Live Traffic Blog

Institut Ibu Professional

Institut Ibu Professional
Klik gambar untuk mengetahui kegiatan yang berhubungan dengan IIP

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Komunitas Emak2 Blogger

Komunitas Menulis

Google+