Kenapa LDR?

Alhamdulillah sudah 29 minggu janin saya. Mohon doanya agar janin saya sehat terus, ya...

Hari ini menurut saya hari yang sangat lega karena saya minim bertemu dengan orang-orang yang akrab dengan saya. Rasanya, tiap ketemu orang yang deket banget malah jadi trauma. Hihihihi. Saat ini memang saya menghindari bertemu dengan orang-orang yang teramat dekat dengan saya. Jujur saja, saya tidak nyaman.

Saya capek menjawab, kenapa sih, LDR?
Kenapa, sih mikirin duit aja?
Kok, tega-teganya suamimu ninggalin kamu di Jogja padahal kamu baru hamil besar?
Jadi istri tu harus ngalah, dong. Masa jauh-jauhan? Awas jadi fitnah...
Jadi istri tu harusnya... ini.. itu... dsb jauh sama suami juga jauh sama Allah, lho

Lho, kok bawa Allah, sih? Jaman dulu suaminya perang keles. Sekarang suamiku juga perang dengan cara berbeda

dan yang lebih nyakitin lagi....
Pantes aja dapet anaknya lama, LDR, sih! Mikirin duit aja

Walaupun saya sudah sering dengar itu, tapi kok saya selalu mewek ke suami ya kalau dengar? Hahaha. Makanya, demi kesehatan bayi saya, saya lebih baik meluapkan dengan sering bertemu orang-orang yang tidak suka kepo.... atau kalaupun kepo nggak suka ngejudge lah ya...

Jujur saja, yang nggak pernah protes dengan keputusan kami LDR hanya dari keluarga. Karena apa? Karena, mereka tahu kami berdua sudah pernah berusaha maksimal untuk tidak LDR. Kalau memang Allah nggak mengijinkan bagaimana, dong?

Saya pernah berusaha tidak LDR

Tahun pertama pernikahan, setelah saya putus kontrak dengan kantor saya yang dulu, saya ikut suami. Hari-hari kami sangat bahagia. Saya akui, memang sangat bahagia tinggal bersama suami. Sampai hal itu terjadi.

Ketika usia kandungan saya 3 bulan, saya mengalami keguguran.Saya pindah mengikuti suami ketika usia kehamilan dua bulan dan kami belum kontrol ke dokter mana pun. Dengan sekuat tenaga suami bolos kerja dan mencarikan rumah sakit terbaik untuk saya. Saya tidak menyangka saya terkena CMV salah satu virus torch yang terdapat di unggas. Padahal, saya tidak pernah sekalipun memelihara unggas. Mau tidak mau, untuk kontrol bulanan saya ke Jogja karena suami saya tidak mau menyakiti saya. Suami saya ingin memberikan rumah sakit yang paling baik yang ada di Jogja.

Setelah, saya aman untuk hamil lagi, saya ikut suami ke Purwakarta lagi. Dua bulan berjalan, suami dipindahkan ke Jakarta. Ketika mengisi pelatihan, beliau bisa ditugaskan di Purwakarta, Malang, atau Bali. Padahal kontrakan kami di Purwakarta. Suami saya akhirnya memilih saya agar di Jogja saja. Kasihan jika saya ditinggal sendirian di kontrakan ketika pelatihan berlangsung lama.

Dua tahun, saya belum diberi momongan. Makin banyak yang menyindir. Justru yang menyindir adalah orang yang paham agama. Sedih sekali rasanya....

Saya alihkan kesedihan saya dengan mengikuti komunitas-komunitas ibu-ibu. Saya memilih teman yang tidak seumuran dengan saya, karena mereka lebih banyak mekan asam garam keluarga. Alhamdulillah, benar saja. Saya merasa beruntung di tengah-tengah mereka. Hidup saya belum ada apa-apanya dibandingkan mereka. Kegiatan saya makin positif dan makin ceria. Suami sampai tanya, "Kita udah nggak pernah marahan lagi ya, Dek."

Sejak saat itu, aku sangat berhati-hati jika berbicara. Jangan sampai omongan kita atau keberuntungan kita membuat orang lain tak bersyukur dan memperburuk keadaan keluarga orang lain.

Bulan April 2015, saya tidak enak badan. Saya selalu sedia testpack di tas. Alhamdulillah saya hamil. Tidak ada yang saya beritahu selain suamiku. Saya langsung cek ke dokter. Kami sangat bahagia....

Dan lagi-lagi kebahagiaan kami rusak karena celotehan orang terdekat.

 "Kok cek ke dokter nggak ditemeni suami, sih?"
"Ibu hamil kok naik motor sendirian, sih. Kan punya riwayat keguguran."
Dan alasan lainnya...

Dari telpon saya menengis tersedu-sedu setiap habis kontrol mendapatkan komentar negatif. Bulan ke tiga suami pulang alhamdulillah bertepatan dengan Idul Fitri. Saya sangat bahagia bisa bertemu dengan suami. Jika suami pulang, jangan harap bisa mendapatkan waktu denganku ya? Waktuku eksklusif untuk suamiku. Aku nggak ngidam. Aku takut ngidam. Aku cuma ingin memaksimalkan waktuku bersamanya.

Seharusnya saya bersyukur. Bisa jadi, orang lain tak sebahagia saya ketika bertemu dengan pasangan yang sudah lama tak bertemu. Walaupun suami saya jauh, suami saya sangat setia. Tak pernah kami lepas dari hp. Kami selalu tahu keadaan pasangan kami masing-masing.


Trisemester pertama terlewati. Saya berjanji akan menjaga janin ini. Saya tidak peduli periksa ke dokter sendiri. Saya left grup dari grup grup WA yang membuat saya menjadi tidak bersyukur. Saya unfollow teman-teman di FB yang kebanyakan menyebarkan aura negatif. Alhamdulillah, hidup saya sangat bahagia.

 Bahagia bukan pada waktunya. Bahagia itu kita ciptakan sendiri, sekarang!

Sekarang sudah masuk tri semester ke tiga. Makin banyak yang mengkhawatirkanku bagaimana nanti jika saya melahirkan suami tidak di sini. Saya yakin Allah mempersiapkan rencana terbaik untuk saya. Selama ini rencananya baik untuk saya. Jika ada yang terlalu banyak memberikan ceramah tanpa solusi saya diamkan saja. Keluarga kecil saja akan dibangun. Entah bagaimana rencana Allah, LDR atau tidak, saya yakin saya, suami dan anak saya mampu melewatinya. Kami punya Allah. Ini rencana Allah terbaik untuk saya dan
 suami. Bagaimana pun bentuknya, design keluarga ini paling pas dan paling baik untuk keluarga saya.
Kita hidup di dunia sementara
Biarlah jika harus LDR di dunia
Semoga kita dipersatukan selamanya di Surga
Aku yakin, rencana Allah itu paling baik :)



2 komentar:

  1. sukaaaa.. create our own happiness ya mak.. congratz yaa buat kehamilannya sekarang..

    BalasHapus

 

Total Tayangan Halaman

Live Traffic Blog

Institut Ibu Professional

Institut Ibu Professional
Klik gambar untuk mengetahui kegiatan yang berhubungan dengan IIP

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Komunitas Emak2 Blogger

Komunitas Menulis

Google+