Hakikat Seorang Istri



Alhamdulillah janin saya sudah 31 minggu. Seminggu kemarin saya ke ahli kesehatan sampai 3 kali. Hehehehe. Lebay ya... Iya, memang, Saya lakukan semua untuk kesehatan janin saya. Maklum, saya pernah keguguran, jadi saya berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga janin saya.

Pemeriksaan pertama dengan dokter kandungan yang no comment. Saya senang sekali dengan dokter eyang kakung ini, karena membuat saya sama sekali tidak khawatir dengan kandungan saya. Sejak saya di Jogja untuk pemeriksaan TORCH, saya dengan dokter ini. Mungkin, karena banyak kasus yang ditangani oleh dokter hebat ini, jadi masalah dalam kehamilan saya itu bukan apa-apa. Saya senang karena dokter ini nggak bikin saya takut. Alhamdulillah, dengan ijin Allah, setahun setelah keguguran saya hamil lagi. Karena saya sudah terlanjur ngefans dan suami juga sudah nyaman dengan 'no comment'nya, akhirnya saya setiap bulan kontrol ke sini. Semoga saja janin saya baik-baik saja. Aamiin.

Oh iya, pada pemeriksaan pertama ini, ada peristiwa lucu. Suami saya selalu mengejek saya dan janin gendut. Waktu USG tiba-tiba alatnya rusak, jadi beratnya nggak kelihatan, deh, Padahal suami saya pulang lima minggu sekali. dia sedih, deh. Makanya, jadi bapak jangan suka ngejek, ya. Kan anaknya malu.. apalagi berhubungan dengan berat badan. Sensi, tauk. Hahaha.

Pemeriksaan ke dua, saya mencoba layanan BPJS. Katanya kan gratis. Saya pengen coba aja. saya sendiri ke klinik dekat rumah, sekitar 4km dari rumah saya. Naik mtor sendiri. Udha biasa, sih. Dengan pede saya sudah menyiapkan fotokopian bpjs dan KK. sampai klinik, eh kurang, Ternyata harus dengan fotokopi
Buku Kesehatan Ibu dan anak. Yasudah, saya fotokopi dulu. Setelah itu saya bertemu dengan bidannya. Saya baru tahu ternyata ada alat semacam USG tapi via suara. Detak jantung anak saya kedengeran. Asik! Biasalah, saya nangis terharu.

Bidan, merekomendasikan saya untuk cek HB dan hepatitis. Setelah di cek ternyata saya HBnya kurang. Ssut, ternyata bener, lho. BPJS itu gratis tis tis. Hehehehe. Kalau yang hepatitis bayar tapi murah kok cuma 15.000. Nah yang terakhir saya mau disuntik TT, tapi karena habis saya diminta ke puskesmas, Pualangnya, saya mampir Puskesmas. Ternyata sudah tutup. Saya sudah mulai lemas. Kayaknya kalau di Puskesmas harus antri lama, kasihan janin saya. akhirnya saya menelpon Rumah Sakit Ibu dan anak langganan saya. Ternyata di sana ada suntik TT dan vaksinnya hanya 20.000. Yasudah akhirnya saya daftar.

Keesokan harinya, saya periksa. Biasa naik motor juga. Jarak rumah yang saya tinggali dengan RSIA sekitar 20 km. Kalau dengan rumah suami sih cuma 3km. Selesai pengajian pagi, saya langsung ke RSIA. Saya sekarang dengan dokter cantik. Waktu minta suntuk TT diketawain soalnya kalau di Pulau Jawa insya Allah nggak kena Tetanus. Tapi demi menghormati bidannya, saya tetap disuntik karena tidak membahayakan janin saya.

Saya juga minta USG lagi karena saya penasaran dengan berat bayi saya. Sebulan yang lalu terlalu besar. Semoga hari ini pas. Begitu pikir saya. Dan benar. alhamdulillah berat bayi saya pas. Suami saya yang telpon iri bukan kepalang karena saya mengirimkan video janin anak kami. Beliau minta maaf nggak ngejek lagi. Tapi, ada PR untuk saya. Janin saya ternyata masih sungsang. Saya tiap habis sholat harus banyak-banyak sujud. dua minggu lagi kontrol,deh. Mohon doanya semoga adeknya mau jungkir balik, ya.



Sampai rumah, saya menceritakan semuanya kepada ibu saya. Ibu saya langsung menstop aktivitas saya naik motor. Padahal, saya ada kegiatan mengjai rutin. Hiks. Sedih, sih, Tapi demi janin saya saya menurut dengan ibu. saya juga tidak mau menambah pikiran ibu kalau saya ngeyel. Mungkin, allah pengen saya banyak memohonNya dengan bersujud dan aku banyak-banyak di rumah aja belajarnya.

Nah, cerita tadi baru narasi awal, ya. Panjang, ya.... Hehehe. Maaf. Saya dulu bukan orang yang rumahan. Saya dibebaskan oleh orang tua untu pulang malam karena orang tua saya sangat mempercayai saya. waktu SMA bahkan saya tidak jarang pulang jam 2 pagi. Bukan karena saya nakal, ya. Waktu itu saya lembur kerja kelompok untuk lomba karya tulis.

Waktu kuliah saya juga dibebaskan orang tua saya ke mana saja. saya lomba ke sana ke mari, menjadi relawan di sana sini dan membentuk organisasi sesuai dengan kesenangan saya. Setelah, menikah peraturan berubah. Sejak mengetahui harus LDR, saya memang tidak terlalu kaget, tetapi ada yang salah dengan diri saya ketika saya bekerja.

Setiap orang mempunyai tipe bekerja sendiri-sendiri. Ini adalah kejelekan saya ketika bekerja. Saya terlalu total bekerja sehingga saya kurang memperhatikan suami. suami pun begitu. Ketika suami pulang, yang ada marah-marah karena kami capek dengan pekerjaan kami masing-masing. Alhamdulillah saya hamil sehingga saya harus mengalah ikut suami. saya tetap bekerja walaupun pekerjaan saya di rumah, yaitu menulis buku. Kami sangat bahagia dengan hidup kami karena kami mempunyai kegiatan yang seusai dengan passion kami. Tetapi, musbah terjadi. Saya keguguran dan suami harus bekerja pindah-pindah. Baru sebulan kami menikmati indahnya hidup bersama, kami harus LDR lagi.

Saya ditawari bekerja di sebuah konsulatan untuk mendesign kawasan wisata. Saya mulai punya kesibukan. Setahun pernikahan membuat saya belajar saya juga harus mempunyai waktu untuk suami saya. Ketika suami telpon atau sms saya segera membalasnya dalam kondisi apapun. Kegiatan bekerja dan menulis saya lancar. Saya mulai menikamti LDR kami. Tak ada konflik yang berarti. Hingga kami tersadar, pertanyaan kapan hamil bikin kami sedih. Hampir setiap pulang saya menstruasi. Sedangkan kami sama sekali tidak bisa mengatur pertemuan kami ketika masa subur.

Akhirnya, saya memutuskan resign dari pekerjaan, Saya ingin ikut suami setidaknya seminggu sekali kami bisa bertemu. saya ikut suami ke Purwakarta. Dua bulan bersama suami ternyata kami belum kunjung hamil. Ada apa dengan saya? Pertanyaan tetangga yang kadang membuat saya stress. Aplagi ketika keguguran saya berada di Purwakarta. Banyak tetangga yang menakut-nakuti saya tidka bisa hamil lagi. Kondisi diperburuk suami dipindah ke Jakarta dan jarang ke Purwakarta. Saya akhirnya dipulangkan ke Jogja.

Saat di Jogja saya tidka mendaftar pekerjaan apapun. Saya di rumah merenungi apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah tangga kami? apa yang salah dengan rumah tangga kami?

Sya pun instrospeksi dengan diri sendiri. Saya menyadari bahwa pernikahan ini bukan saya dan suami saya saja. Ada orang-orang di sekitar saya. Dengan mengekspos kebahagiaan saya, bagaiman orang yang tak seberuntung saya? 

Saya akhirnya meminta maaf dengan semua keluarga dan teman-teman di masa lalu saya. Saya memperbaiki hubungan dengan teman-teman saya. saya hubungi mereka satu per satu dan meminta maaf. Saya sama sekali tidak memikirkan pekerjaan dan mimpi-mimpi saya. saya ijhlaskan, saya biarkan. Saya berusaha menjadi istri yang baik dengan membuat tenang suami, Menjadi istri yang benar-benar rumahan. Saya berusaha menjadi anak yang baik untuk keluarga. 

Bulan April, saya hamil lagi. Betapa bahagianya hati ini. Seminggu setelah saya meminta maaf dan menjalin hubungan baik dengan semua orang. saya sangat bahagia. 

Bulan pertama dan kedua saya periksa tidak ditemani suami saya. Saya mual seperti kebanyakan orang hamil. Saya ingin mangga muda karena mual yang kadang tak terkira, Alhamdulillah saya punya teman yang baik yang mengirimkan buah segar kepada saya. Terkadang saya cari sendiri ke toko buah. saya bahagia walaupun saya tak merengek ke suami saya. 

Saya tidak terlalu share kebahagiaan saya ke media karena masih banyak orang yang sulit mendapatkan anak. anak simpan bahagia ini untuk saya dan suami. Jika tidak tahan, saya akan share di blog pribadi yang masih sepi ini. Jadi, hanya yang berkepentingan saja yang mau nengok rumah kecilku ini. 

Saat ini, usia kehamilan saya 31 minggu. Entah mengapa mimpi saya sebagai pegawai kantoran mendesign berbagai kawasan sirna. Mimpi saya menjadi peneliti juga sudah terbang. Saya berkegiatan sebisanya. Semampu saya. saya tidak mau memaksakan ego saya yang justru membuat suami saya yang membanting tulang khawatir. Saya berkegiatan sesuka saya dengan batasan yang membuat saya bahagia. Jika saya belum bisa menebar manfaat untuk kali ini, setidaknya saya nggak bikin repot, kan?

Ya, saya bukan istri hebat dan keren. Tapi saya bahagia, karena saya bisa menekan ego dan membuat tenang orang-orang di sekitar saya...



2 komentar:

  1. Selamat, ya, Mbak. Semoga sehat hingga melahirkan dan sesudahnya. Adeeem baca ini.

    BalasHapus

 

Total Tayangan Laman

Live Traffic Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Komunitas Emak2 Blogger

Komunitas Menulis

Google+