Mengapa Belum Mantap S2?

Sebenarnya sudah lama yang mempertanyakan ini. Tapi seperti biasa, saya santai saja menjawabnya. Tapi sayangnya, jawaban saya selalu berubah-ubah. seharusnya konsisten, ya...


Apakah saya tidak mampu untuk membayarnya?
Sekarang, banyak sekali beasiswa. Insya Allah IPK yang saya dapatkan ketika S1 memenuhi standar untuk memperoleh beasiswa. Lantas mengapa tidak meneruskan S2?

Saya ingin menjadi penulis
Alasan utama adalah saya ingin menjadi penulis. Ada beberapa hal yang harus saya pertimbangkan untuk mengambil jurusan selanjutnya. Saya tidak mau terburu-buru mengkuti trend yang ada.  Selama saya belum memutuskan s2, saya mencari bakat saya ke mana saya arah tulisan saya. Sempat saya berpikir saya berbakat menulis fiksi anak, tetapi saya kirim ke Bobo belum dimuat juga. Itu artinya itu bukan bagian dari hidup saya.

Saya nyaman dengan tulisan yang memotivasi dan bersifat non fiksi. Lalu ke mana kah saya harusbelajr S2?
Nah, saya sampai saat ini belum menemukan jurusan yang pas untuk S2. Kemarin saya sempat menginkan jurusan sastra anak. Tapi, lagi-lagi saya masih ragu. apakah benar itu jurusan yang bagus dan pas untuk saya? Saya ingin sekali mengambil S2 dan S3 saya sesuai dengan kesukaan dan kemampuan saya agar hasilnya maksimal.

saya merasa ketika S1 saya mendapatkan kuliah yang saya mau. Sejak SMA saya mempersiapkannya dengan cukup baik. Saya mengikuti lomba karya ilmiah yang berkaitan dengan tata kota. Ketika kuliah, saya sangat menikmatinya.

Lantas, mengapa tidak meneruskan ke tata kota? Bukakah saya sudah menyenanginya?

Cita-cita bukan jadi dosen jadi tidak ada kewajiban untuk meneruskan yang sesuai dengan ilmu sebelumnya. Saya ingin menjadi penulis yang peka terhadap lingkunga, menuliskan, lalu menyebarluaskan.

Saya juga tidak bercita-cita menjadi konsultan. Saya pernah mencoba bekerja menjadi konsultan, tetapi saya tidak cocok untuk menjadi istri. Saya terlalu fokus bekerja. Sampai saat ini, saya masih dipermudah urusannya ketika menjadi seorang penulis, walaupun gaji saya tak selancar ketika bekerja di konsultan.

Saya ingi menjadi penulis, dan lagi-lagi saya masih belum tahu s2 apa yang cocok untuk saya.

Kenapa saya ngotot sekali ingin jadi penulis? Tulisan di media nggak ada? Lomba nggak pernah menang? Buku baru satu.
Saya maish berpikir positif bahwa ini ujian yang diberikan kepada Allah agar saya melanjutkan karir saya walaupun tak selalu cemerlang. Saat SD, saya sudah mengirimkan tulisan ke media agar dimuat tetapi hanya satu yang dimuat. Ketika SMP saya mulai mengikuti lomba karya tulis dan alhamdulillah sudah mulai menang di berbagai ajang, Ketika SMA menurut saya merupakan masa kejayaan saya ketika hampir semua lomba menulis yang saya ikuti saya mendapatkan juara. Ketika kuliah, prestasi saya mulai menurun. Dan ketika sudah menikah, saya mulai diuji lagi bagaimana agar saya bisa menemukan titik di mana saya bisa berprestasi lagi.

Tapi yang saya syukuri adalah kecintaan saya menulis tidak pernah luntur dari dulu sampai sekarang.

Bukankah ketika kita mencintai tulus ketika kita tidak peduli si 'objek'  sedang membuat kita di atas atau di bawah?
Jangan-jangan ini ujian dari si objek?

Saya akan terus walaupun ditolak media, penerbit,atau pun nggak pernah menang. saya tidak akan pernah mundur dari dunia ini apapun yang terjadi.

wntah mengapa saya sangat bahagia sekali jika tulisan saya dibaca orang dan dapat menginpirasinya. Saya bahagia sekali jika tulisan saya bisa bermanfaat untuk orang lain. Saya tidak mendapatkan kebahagiaan itu dari profesi lain.

Baiklah... tapi sebenarnya ada pengaruhnya nggak sih dengan pindah-pindahnya suami? Sebanrnya kan saya ada di posisi bagus karena jauh dari suami? Jadi bisa untuk menambah kegiatan dengan S2

Saya tidak pernah berniat sama sekali untuk LDR-an dengan suami. Saya selalu berharap bahwa jika ada kesempatan untuk bersama-sama saya akan hidup bersama dengan suami. Saya selalu berpikir bahwa besok saya akan bersama suami merawat anak kami bersama.

Untuk menambah kegiatan selama LDR, saya tidak mau yang bersifat rutin. Saya ingin sekali yang fleksibel. Walaupun kami jauh, saya tidak mau melewatkan telpon, sms, atau WA dari dia. saya ingin selalau dekat dengannya walaupun kami berjauhan. Dan dia juga merasa dekat dengan saya.

Untuk rencana s2 saya ingin mengambil juga ketika kami sudah hidup bersama. Ketika anak-anak sudah sudah bisa sekolah sehingga saya tidak perlu meninipkna kepada orang tua. Slagi saya sekarang hamil, dan berjauhan dengan suami, saya menggali terus kemampuan menulis saya, dna genre apa yang pas untuk saya.

Ketika saya sudah menemukan genre itu, saya berharap pas menemukan jurusan saya ambil s2, anak-anak saya sudah sekolah, dan suami sudah tinggal dengan saya.

2 komentar:

 

Total Tayangan Laman

Live Traffic Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Komunitas Emak2 Blogger

Komunitas Menulis

Google+