Sembuh rontok Hatiku karena Rontok Rambutku #1

Asslamu’alaikum. Selamat pagi!
Saya sekarang baru di dalam puncak keminderan memuncak. Saya berasa manusia hina. Hasyah lebay. Iya benar, bener. Saya sudah tiga hari hanya memandangi draft tulisan pertama saya yang serius banget buat hidupa saya. Saya menulis tentang jilbab saudara-saudara. Ini rasanya nggak mungkin bangeet. Saya agamanya masih tipis.

Saya memang tidak bersalah dengan beermasalah dalam berjilbab. Tapi begini. Sangat wajar jika saya tidak berjilbab. Bapiak ibu saya da’I da’iah. Sejak saya TK saya diajak menemani bapak pengajian. Saya terbiasa pakai jilbab sejak kecil. Saya paham tidak berjilbab itu dosa sejak kecil. Begitu baligh semua gadis di rumah saya langsung berjilbab. Kami paham betul hukuman jika tidak berjilbab. Kami takut betul jika kami sampai melepas jilbab. Waktu SMP saya sempat menangis karena teman saya usil membuka jilbab saya dari belakang. Saya takut dengan Allah. Tidak dengan kebiasaan  saya berjilbab.
Saya sadar, bahwa teman-teman saya lingkungannya tidak sebaik saya sehingga saya tidak pernah berani mengingatkan teman saya yang jilbabnya tipis atau tidak berjilbaba. Saya berteman dengan semua. Sama sekali tidak berani mengingatkan. Saya hany berani mendoakan saja.
Ketika menerima naskah ini saya sungguh takut menyakiti hati orang lain. Justru membuat orang lain takut untuk mempelajari Agama Islam. Saya sangat berhati-hati dalam menulis sehingga mampu mengajak teman-teman dengan cara sesantun-santunnya. Jujur saja, saya baru sadar kalau saya berhenti belajar agama sejak SMA. JAdi saya tidak belajar agama itu takut. Hati saya tidak menerima. Ada dua factor kenapa saya berhenti belajar agama
1)      Pacaran
Dasar ABG, udah tahu dosa masih aja dilakuin. Menjadi anak pertama tentu selalu menjadi yang terbaik. Apa-apa memutuskan sendiri. Sejak punya pacar, sperti punya kakak untuk berbagi. Kebetulan hobi menulis dan suka matematika. Jadi cocok. Tapi di sisi lain saya juga takut. Karena tahu pacaran itu dosa. Makanya saya ternyata sama saja. Saya yang penting membanggakan orang tua. Tapi Alhamdulillah pacaran berhenti.  Saya berjanji tak akan pacaran lagi. Alhamdulillah hubungan kedua dengan laki-laki yaitu di pernikahan. Tapi setelah putus pun saya juga malas tetap malas belajar agama. Nah itu karena factor yang kedua ini.

2)      Mbak Mentor saya bilang piano haram
Saya suka banget music. Sejak kecil saya belajar music. Kalau bapak pengajian, saya di sela sela pengajian nyanyi dengan piano. Orang-orang juga antusias dengan penampilan bapak saya. Waktu hari pertama mentoring di sekolah, materinya keras sekali. Banyak yang diharamkan.

Yang bikin saya shock, piano itu haram. Saya berkonsultasi dengan bapak dan ibu. Bapak ibu saya bilang nggak papa. Saya pun mulai menjauh dari mentoring. Mbak mbak itu juga sok eksklusif banget. Merasa dirinya paling benar. Saya juga nggak sendirian lho. Banyak yang merasa seperti itu. Jadi saat itu saya merasa tidak bersalah.

Saya juga sempat dibuat sakit hati oleh laki-laki yang sok alim, eh ternyata sekarang jadi suami saya. Hehehe. Dia mengingatkan orang mau sholat kayak aku nggak pernah sholat. Sebel banget rasanya. Spertinya golongan mereka saja yang masuk surga. Saya malas sekali jika ada kegiatan agama di sekolah.

Saya memilih mengembangkan passion saya dalam bidang menulis. Yang penting, saya bermanfaat dan juga tidka merugkan orang lain. Untuk apa saya belajar agama jika akhirnya  menyakitkan orang lain dan membuat orang lain menghindar dari agama. Begitu piker saya waktu itu.

Nah sejak saat it saya berhenti belajar agama. Kalaupun belajar agama biasnaya nggak maksimal. Karena saya takut jadi muslimah sok sokan.

Tapi saya yakin Allah punya rencana baik untuk saya. Saya pun akhirnya mentapkan diri untuk menerima pesanan naskah ini. Bismillahirrohmaanirrohiiim. Dan alhamdulillah saya punya diberikan jalan yang luar biasa oleh Allah:

Pertama,
Saya insya Allah tanggal 11-12 Desember akan melaksanakan workshop mewarnai yang berhubungan dengan buku pertama saya. Saya ingin merubah penampialn saya. Jilbab saya ingin saya perbesar. Bukan karena naskah jilbab ini, bukan. Saya memang dari dulu ingin berjilbab besar, tapi menunggu waktu yang tepat.

Saya sombong sekali ya. Seperti saya hidupnya masih lama saja. Untunglah saya diberi wkatu oleh Allah untuk memperbaiki diri. Saya mulai kemarin belajar memakai jilbab yang besar. Alhamdulillah tidak malu dibilang kayak ibuk-ibuk. Malah senang. Alhamdulillah senang sekali jika jadi ibuk-ibuk.  

Saya cari sponsor pakaian untuk jadi pembicara. Alhamdulillah baju impian saya didapat. Sejak lama saya ingin baju Zahidah. Saya ngobrol langsung dengan ownernya, Aisyah Amatullah. Jika mereka mau menjadi sponsor, logomeraka akan saya berikan disetiap slide. Alhamdulillah mereka mau. Aaak, senang sekali rasanya.

Ditambah lagi, saya dapat buku dari ownernya Aisyah Amatullah buku. Bukunya bagus banget, pas banget jadi referensi buat buku saya. Ada 3 buat doorprize juga :D Makasih Aisyah. Aku suka banget.

Buku referensi juga banyak ditemukan di perpustakaan pribadiku. Entah berapa lama aku nggak menyentuhnya. Sejak SMA kali ya…. Hehehe. Alhamdulillah

Pertolongan Allah itu sungguh dekat, ya kalau kita niatnya benar-ener karena Allah.

Kedua, rambut saya rontok hebaaaat!

Saya sedih banget kalau masak pasti ada aja rambut yang kecampur. Sampai saya takut untuk memasak. Apalagi suami saya sempet keloloden. Sedih banget. Padahal  rambut saya udah saya masukin ke shower cup. Sampai sedih.

Mungkin karena saya ini anak dataran tinggi yang nggak pernah pakai kaporit. Di purwakarta pakai kaporit jadi nggak cocok kali ya. Ah, tapi memang aku aja kali yang perawatannya nggak bagus.

Akhirnya saya korek-korek kosmetik lama saya. Saya menemukan neril botol kecil gitu. Dulu belinya mahal. Dua kali pakai langsung berkurang rontoknya. Alhamdulillah banget. Suami pun mengantarkan saya ke swalayan. Ternyata harganya sembilan botol 97.000. Haduuuh kasian suami saya kalau saya boros begini. Apalagi sebentar lagi saya ke Jogja kerana beliau mau ke lapangan seminggu. Saya pun menolak untuk dibelikan dengan alasan harga di Jogja lebih murah. Saya mengerti suami saya ingin sekali istrinya berambut panjang.

Saya ke Jogja. Di Jogja saya nggak kemana-mana. Nyusun naskah juga deadlock. Hahaha. Lebih tepatnya minder. Saya tidak pakai jilbab di rumah. Ahaaaaa! Saya jadi tahu mengapa berjilbab banyak yang nggak istiqomah. Mereka rontok kayak saya mungkin dan dengan dalih perwatan akhirnya lepas jilbab. Gak tahan sama rontoknya. Ah, ini nggak bisa dibiarkan. Aku harus bantu mereka mencari solusinya. Solusi buat aku ding. Alhamdulillah aku merasakan apa yang mereka rasakan.

Saya pun cari buku di perpus pribadi saya, taraaa dapat merawat dengan alami. Di internent juga gitu. Ada gerakan no poo. Akhirnya saya mualai hari ini nggak pake shampoo tapi pakai lidah buaya. Kebetulan ibu sama embah putri menanam di depan rumah dan gemuk banget.

Caranya begini,
Lidah menjadi  dipotong memanjang. Lalu usapkan lendir ke rambut yang sudah dibasahi. Dipijat tunggu sampai sampai 20 menit. Lalau bilas.

Alhamdulillah rambut tetep nggak rontok habis keramas. Saya pun bisa dapat bahan untuk tulisan saya lagi. Alhamdulilaaaah. :D

Sekarang saya mau mulai belajar agama dari nol lagi. Saya mungkin sudah tertinggal jauh dari suami, mertua, orang tua, bahkan adek-adek saya. Tapi saya belum terlambat untuk memulainya. Semoga dengan buku ini, saya dapat mengemukakan dengan santun dan tidak menimbulkan trauma. Semoga, insya Allah :D




0 komentar:

Posting Komentar

 

Total Tayangan Halaman

Live Traffic Blog

Institut Ibu Professional

Institut Ibu Professional
Klik gambar untuk mengetahui kegiatan yang berhubungan dengan IIP

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Komunitas Emak2 Blogger

Komunitas Menulis

Google+