Suamiku dan Dunianya

Aku mengenalnya sejak kelas satu SMA. Dulu aku sangat sebel padanya karena dia merasa sangat sholeh dan sok mengeksklusifkan diri. Tapi sejak aku jadi istrinya, betapa menyesalnya kau dulu berpikir ketika SMA. Dia memang sholeh, dia memang eksklusif.

Saat dia pulang dari kerja. Seperti biasa, hal yang diceritakannya tentang sholat dan pergaulannya. Dia bisa marah-marah jika waktu sholat Jum’atnya terganggu. Sholatnya terpaksa dijamak padahal tak jauh dari tempat tinggal. Kondisi yang tidak mudah untuk hatinya. Di luar kebiasaannya.

Belum lagi pergaulan yang tak mendukungnya. Dunia lapangan itu serasa bebas. Hingga pergaulan pria dan wanita tak ada batasan. Bebas pegang tangan bebas pergaulan. Di luar batasan yang diinginkan.
Seandainya aku dulu memikirkan ulang dan bisa menarik kembali ucapan. Dia memang eksklusif. Dia memang sholeh.

“Dek, beli cincin, yuk!”

Aku dan suami memang tak suka memakai cincin. Mungkin karena sejak kecil kami tak suka memakai perhiasan. Tapi meungkin kondisi sudah terdesak. Seperti biasa, fans kembali mengantri. Aku pun sudah kebal dan tak cemburu lagi. Cincin katanya bisa sedikit mengurangi godaan yang datang. Setidaknya mengurangi wanita yang penuh keagresifan. Ah, aku tahu kok. Aku juga pernah kerja di antara pria. Sebenarnya pria jika tak disodori juga tak akan mau. Entahlah, mungkin sekrang makin banyak wanita yang ingin jadi idola. Jadi siapapun digoda. Atau ingin membuktikan kalau di cantik? Apa pasangannya tak pernah memujinya? Atau mungkin memang suamiku wajahnya yang terlalu tampan? Sehingga suamiku tak menggoda pun sudah menimbulkan gejolak rasa? Ah tidak. Masih banyak pria yang lebih tampan. Bisa jadi memang dia istimewa, eksklusif dari yang lainnya. Ah, entahalah. Dzon ini belum tentu benar rasanya. Yang penting Allah menjaga suamiku dan istiqomah dengan kesholehannya.

Sampai-sampai kamu takut punta telepon pintar. Yang bisa membuka celah percakapan mesra antara kamu dan siswamu atau kamu dan partner kerja. Tak berasa menimbulkan detak cinta. Kamu menghindari itu. Kamu memilih lebih baik tak punya. Ah aku tahu rasanya. Bahkan ketika kamu memberikan no hpku untuk mereka, masih berani beraninya mereka menggoda. Mungkin seperti itu sudah biasa cinta… Pantas saja Bapak pusing ngurus banyak perceraian di KUA. Dunia ini sudah mulai gila. Menggoda suami yang sudah beristri itu hal yang biasa. Sabar cinta…. Kamu pasti bisa melewatinya.

Pagi ini kamu berangkat kerja.
Aku hanya bisa mendoakansemoga kamu tetap jadi pria yang istimewa. Dijaga Allah dari api neraka. Dijaga Allah dari wanita yang suka menggoda. Walaupun sebenarnya aku sudah tak merasa cemburu lagi rasanya. Terkadang justru aku merasa bangga. Ah, bodohnya aku. Membiarkan suami untuk bebas padahal hatinya gundah gulana. Bukankah dia sedang menjaga hatinya untukku juga?
Tapi pagi ini. Aku mengantarmu untuk bekerja. Tersungging senyum nan mesra. Katamu kamu mencari nafkah untukku dan calon anakmu. Urusan kerjamu sekarang juga urusanku. Dosamu pun juga jadi dosa ku. Semoga kamu tetap jadi pria yang sholeh dan eksklusif. Yang beda dan berpegang teguh pada agama.

Aku bangga padamu suami sayang. Aku yakin Allah akan selalu menjagamu. Allah selalu akan mengirimkan malaikat-malaikatnya yang akan membantu menjaga hati, badan, dan matamu. Allah tak akan membiarkan setan merusak perilaku dan perkataanmu.

Selamat bekerja sesuai kesenanganmu sayang. Setiap pekerjaan pasti ada resikonya. Harta dan wanita adalah yang paling bahaya. Aku yakin kamu bisa melewatinya.

 Teruntuk priaku yang eksklusif

Dari wanita yang biasa-biasa saja

0 komentar:

Posting Komentar

 

Total Tayangan Halaman

Live Traffic Blog

Institut Ibu Professional

Institut Ibu Professional
Klik gambar untuk mengetahui kegiatan yang berhubungan dengan IIP

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Komunitas Emak2 Blogger

Komunitas Menulis

Google+