Saatnya Menjadi Wanita Setengah Karir

Hari ini adalah hari pertama saya kerja. Rasanya senang sekali karena sudah banyak sekali di otak. Saya mendapatkan tugas untuk menjadi perencana di kawasan Kaliurang. Sumpah, ya. Ini cita-cita saya banget!

Awalnya, saya ditawarin teman saya, Gupi. Lewat fb lagi.Saya ditawarin kerja wilayah kota. Saya senagnya bukan main. :D Sebelum meneruskan kesenangan saya, saya telfon suami dulu untuk mendapatkan ijinnya.

"Saya aku boleh nggak, kerja? " Kataku terbata-bata.

"Nggak, nggak boleh. Emang mau kerja apa? dimana? Sama siapa?" panjang banget ya kawabnnya.

"Di Jalan Damai aja kok, yang. Temennya cewek semua. Trus gajinya lumayan. Kan kita belum boleh hamil. Jadi daripada kita jauh-jauhan aku tambah ndut dan nggak ada kerjaan, jadi boleh, ya!" Kataku memelas. Hihi.

"Oke sayang, tapi berapa lama?" Tanyanya masih ketus.

"Dua bulan aja kok, yang. Pas banget kita nggak boleh hamil." Kataku masih memelas dan mengaharap dia setuju.

"Oke, sayang" katanya menyelesaikan pembicarannya.

Alhamdulillah aku boleh kerja, di tengah-tengah suamiku yang kera. Waktu itu suamiku ke Malang. Maklum, lah di pekerja lapangan yang siap dikirim keman-mana.

Hari ini aku mulai kerja. Kaliurang mau diapakan ya?
Aku dah lama banget nggak ngerjain sesuatu. Kira-kira pengen digimanain ya?

Dua hari yang lalu, saya dan suami jalan-jalan di Kaliurang. Dia menemani saya melihat tata guna lahannya Kaliurang. Dia nggak sabar karena saya lola. Hah, meang kecerdasan spasial saya rendah. Haha.

Dek, mending dibuat kebun binatang, kebun bunga, trus ada aktivitas highrope nya dek.

Saya pun mendengarkan sambil menulis. Wah, keren juga nih idenya suamiku. aku pun memasukkan dalam daftar list.

Kaliurang ini memang sekarang membosankan, ya.

Gludug....

"Yang, itu merapi baru ngomong, ya?" Suamiku makin takut. Ingat Merapi bergejelok tepat empat tahun yang lalu. erapi memang setiap empat tahun suka memberi rizky berlimpah kepada kami, warga Sleman. Tahun ini, kalau normalnya, Merapi ngajak ngomong lagi, sih. Tapi semoga pelan-pelan aja ya Merapi :)

Saya pun akhirnya pulang. Dasar suami jiwanya petualang, dia nggak mau lewat jalan yang sama. Dia pulang lewat jalur Turi. Di tengah jalan, kami melewati Museum Merapi. Wuih, megah juga ni tempat. Kami belum pernah masuk, kapan-kapan aja deh. Katanya padaku.

"Ada air, dek! Ada air!" Katanya berjingkrak. Tanpa melapas sepatu suamiku langsung terjun ke air. Alhasil, sepatu yang dia kira sepatu tahan air rupanya tembus juga.

"Dek, kok airnya bisa masuk?" Katany cemberut tak lagi senang. "Oh mungkin karena takjahit di sol sepatu ya?" dia pun cemberut menjawab pertanyaanya sendiri.

Saya tertawa terbahak-bahak. Dia naik kemotor dan kami melanjutkan perjalanan.


0 komentar:

Posting Komentar

 

Total Tayangan Laman

Live Traffic Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Komunitas Emak2 Blogger

Komunitas Menulis

Google+