Ketika Jawanese Bertandang ke Tanah Sunda 11 #Keguguran



“Teteh yang pendarahan?” Seorang perawat yang sudah 60an tahun mendekati saya.
“Iya, buk”, saya tersenyum ke ibuk itu. Keren banget ini ibuk, udah usia senja tapi masih sehat. Mau deh seperti beliau.

P : Sakit?
L : Enggak buk

P : Lemes?
L : Enggak, udah tadi. Tad waktu pendarahan saya paksakan makan sama minum susu.

P : Doyan makan?
L : Doyan buk, saya nggak pernah ada keluhan Dedeknya pengertian, nggak minta apa-apa. Allah baik banget deh sama saya, ketika orang lain hamil harus bedrest 3 bulan. Saya enggak sama sekali. Saya masih bisa ngelayanin suami, masak, nyuci, nulis, nggambar, dan kerjaan lain. Hehe.

P : Mbak kecapekan?
L : Enggak juga. Istirahat saya cukup kok 

P :Sudah pernah punya anak?
L :Belum buk, baru anak pertama.

P : Mbak nggak sedih?
L : Sudah tadi. Sembuh waktu dipeluk suami saya. Suami saya mungkin yang masih sedih. Kasian dia. Harap maklum ya buk... 
(ibunya berkaca-kaca entah mengapa)
L : Ibu dah bercucu ya? Keren deh, ibu hebat! Saya mau deh kayak ibuk

Ibu itu lalu menceritakan tentang profesinya, cucunya, anak-anaknya sambil menyoapkana alat untuk saya. Ah, kebiasaan, deh. Tiap ke rumah sakit saya SKSD sama perawatnya. Kata orang tuh ya, perawat itu banyak yang galak. Tapi selama ini saya nggak pernah tuh digalakin perawat. Jangan-jangan pasiennya kali yang nyebelin. Kan sama-sama manusia. Perawat juga capek, kan? Kalau kitanya baik pasti juga baik, kok!

P : Persiapan USG ya, nanti trus dikuret. Udah siap?
L : Siap donk, buk....

Suami saya memeluk saya sambil mengucap Allohu Akbar terus menerus. Baru kemarin dia janji mau adzan di Jogja biar lancar ngeadzanin dedeknya waktu lahir nanti. Allah mempercepat itu Saya dan suami akhirnya sms ibu kami. Dan kepanikan terjadi, insya Allah semua baik-baik saja, buk 

USG pun selesai, saya pun dibius. Belum juga ngerasa tidur sudah dibangunkan, katanya sudah selesai. Tidak terasa apa-apa. Tidak terasa sakit. Tidak lemas. Saya sehat. Saya pun dibawa ke ruang 3. Katanya nginep semalam. 

S : Dek, romantis itu sederhana, ya?
L : Emang kenapa?

S : Bisa bobok berdua sekasur di rumah sakit. Bisa liet TV lagi.
L : Hahahaha.

Kami pun masih tertawa di tengah kesedihan. Ah saya sih sudah nggak sedih, suami yang masih sedih. Saya masih merasa beruntung, sebelah kasur yang masih sekamar sudah dua kali keguguran. Ini anak ketiga, dan kondisinya kritis. Dia bercerita panjang lebar. Saya dan suami menanggapinya. Saya ikut senang dengan kelahiran anak itu. Namanya Shelly. Shelly di rumah sakit lain karena beratnya hanya 2.3kg. Kami pun terhanyut dalam obrolan yang sangat menyenangkan. Alhamdulillah saya mendapatkan keluarga baru. “Sayang, kita nggak Cuma berdua, kok!” kataku dalam hati sambil menatap suamiku yang masih sedih.

Akhirnya, setelah begadang berhari-hari, ibu dan bundanya Shelly tidur terlelap. Suami saya juga tidur tepat disamping saya. Saya nggak bisa tidur, saya memilih untuk lihat TV. Saya jadi inget sama mbak-mbak SPG kemarin. Haha. Apalagi yang bisa saya nikamti selain TV, bahkan kesini tadi nggak bawa apa-apa. 
Pagi tadi, sudah ada bercak. Saya langsung menghubungi teman dari IIDN (ibu-ibu Doyan Nulis) bu Sulis namanya, bagaimana harusnya saya. Selama ini saya memang suka ganggu beliau. Beliau itu pecinta bayi. Bertugas di PKU Muhammadiyah cukup lama, membuatnya lancar sekali mengahadapi pertanyaan-pertanyaan polos saya. Baiknya beliau ya, selalu menjawab pertanyaan saya. I love You, Bunda.... 

Saya sengaja nggak menghubungi orang tua, takut panik. Walaupun untuk masalah makanan dan kondisi, ibu saya setiap hari ngontrol. Ah, ibu saya memamng hebat, bisa menjaga anak-anaknya 6 sampai besar begini, nggak keguguran. Tapi yasudahlah, lain orang lain cerita, lain orang lain rejekinya. Yang penting suami saya ada di sisi saya.

Jam 1 setelah sholat dhuhur, akhirnya saya pendarahan. Saya kagetnya minta ampun. Saya langsung sms suami saya. Ah, tidak terkirim, pasti dia baru di lapangan. Saya mencoba hubungi teman-teman di Jogja. Alhamdulillah semunya menenangkan saya, sehingga saya bisa tetap tenang, bahkan memaksa diri untuk makan. Setengah 2, suami datang, dia memeluk saya sambil menangis. Dia membawa saya ke bidan terdekat. Darah pun berceceran kemana-mana. Bidan itu baik sekali. Beliau naik angkot, saya dan suami naik motor. Saya di motor cerita panjang lebar. Suami saya ngebut tanpa arah. Saya mencoba selalu riang. Kami Cuma berdua, saya nggak mau suami saya juga kenapa-kenapa. Akhirnya suami larut dalam kehangatan. 
Bidan itu mengantar saya agar proses cepat. Alhamdulillah, berkat bidan itu, prosesnya sangat cepat. Padahal, pasien lain banyak yang terpending. Alhamdulillah, terimakasih ya Allah... di balik kesedihan ini Engkau masih saja memberi kemudahan. Jahat sekali kalau ini hukuman, ini kenikmatan engkau memberikan kami lebih banyak saudara 

“Nak, yang sabar ya. Bayinya udah nggak ada” Kata bapak terhadap anaknya.

Tangis Bundanya Shelly keras sekali. Ya jelas beliau sedih. Katanya, beliau belum sempat melihat anaknya. Anaknya yang kritis, membuatnya terpisah rumah sakit. Sang ibu di rumah sakit bersalin ini, sang anak ke rumah sakit negeri yang ada poli anaknya. Saat ibunya tenang, pertama dan terakhir sang ibu melihat anaknya. Pucat, cantik... Tangis pun semakin menjadi. 

Suami saya bangun. Saya dan suami ikut bersedih meneteskan air mata. Bapaknya sangat sabar mendampinginya. Suaminya sudah tidak kuat lagi. Ah, beban suami ternyata sangat berat. Kulihat lagi suamiku. Dia mengecup pipiku.

“Kita masih beruntung, dek” bisik suamiku..

Sepanjang malam kami tak bisa tidur. Sesekali kami melihat mayat Shelly yang cantik. Itu si ahli surga. Kata ibuk-ibuk yang ternyata bos dari suaminya. 

Itu ahli surga, nak.....

“Saya pulang dulu ya teh,” kata saya kepada Bundanya Shelly.
“Teh, makasih ya. Udah ngebuat tadi malam saya dan ibu saya tidur lelap. Satu malam lagi teh disini temenin saya, biar ada temen cerita.”
Saya sebenernya juga senang ada teman. Tapi saya harus pulang. Keluarga di Jogja sudah panik berat. Saya harus segera pulang ke Jogja. 

Saya pun pamit kepada mereka. Suami sudah sedikit terkembang senyumnya. Saya berharap dia baik-baik saja. Kami pun pulang. Lewat jalan yang tak biasa. 

“Dek, sekarang kan dah kosong, jadi kalau ada jegundukan boleh donk nggak pelan-pelan?” katanya
“Iya, nggak papa. Yuk ngebut, yuk.” 

Kami pun sudah terlarut dalam kegembiraan. Alhamdulillah sudah sampai rumah. Saya sedih, suami belum mau makan. Cuma mau minum susu saja. Dia lalu tertidur. Mungkin capek. Capek hati, capek pikiran. Ah, begitu mulia hatimu suamiku... Makasih ya....

Aku pun melanjutkan rutinitasku. Menyapa tetangga yang melihatku iba, bermain dengan anak-anak, dan yang jelas, update status, donk! Hahaha

Maaf ya buat yang terganggu sama statusku, soalnya banyak yang tanya prosesnya gimana. Jadi saya jelasin disini. Kalau yang terganggu bisa langsung disembunyikan aja dari beranda. 

Spesial makasih banget buat 
Haning Tyas Cahya Pratama yang udah semangatin aku terusss.... maaf ya buat kami khawatir. JAdi buleknya dipending. Faris Ottama : Jadi pakdhenya dipending, makasih ya supportnya... Sulis Mukaryanah Widarti makasih makasih udah dampingin terus. Naurin Afifin: Makasih mbak mau diganggu sms dari pagi sampai malem. semua keluarga IIDN Jogja makasih doanya Lutfiana Fahrur Aninda Wida Arief Bakhtiar Azizatul Ulfa nggak bisa disebutin satu satu, makasih ya..... teh Indari Mastuti maaf nggak bisa ke bandung, peluk juga dari sini. Makasih semangatnya. 

oh ya, makasih buat ibukku tercinta 
Siti Aminah Bundahaqqya dan Edy Busana yang semangatin anak-anaknya terus. Kami nggak papa 
Arief Rochimul Hidayat nanti buat lagi ya.... 
Liya Swandari 27 februari

0 komentar:

Posting Komentar

 

Total Tayangan Halaman

Live Traffic Blog

Institut Ibu Professional

Institut Ibu Professional
Klik gambar untuk mengetahui kegiatan yang berhubungan dengan IIP

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Komunitas Emak2 Blogger

Komunitas Menulis

Google+