Terimakasih Bapak

Saya tidak menyangka bahwa didikan bapak sangat berguna saat ini. Saya tidak sadar bahwa kasih sayangnya yang kecil tetapi sangat berarti ketika saya menjalani sebagai seorang istri.


Bapak saya bukanlah orang yang terlalu kaya secara materi, alhamdulillah-nya bapak kaya hatinya. Ketika kecil, saya memang tidak mempunyai sepatu bagus yang harganya sampai ratusan. Sepatu, seragam, bahkan tas saya sering dapat hibah dari saudara. Entah kenapa saya tidak malu, padahal teman-teman saya banyak malu. saya justru bangga, karena baju bekas itu memang beda dengan milik teman-teman saya. Bapak saya seallalu memuji baju bekas saya, wah liya cantik, ya, bajunya beda sendiri. Rok saya memang unik. Ramplenya beda dengan teman-teman saya. Saya bangga sekali dengan baju bekas itu. dan sampai sekarang, mengajarkan ke saya bahwa benda apa saja bisa dimanfaatkan. Apalagi untuk istri yang merantau seperti saya, harus pintar-pintar memakai ulang barang bekas. Kalau tidak, sampah bakal menumpuk.

ah, sederhana sekali. Saya tidak malu dan terus berkarya karena pujian bapak yang dilontarkan berkali-kali ketika saya kecil.

Dengan tidak membeli sepatu, tas, dan seragam uang bisa ditabung bapak untuk membeli barang-barang sesuai hobi saya. Ketika banyak anak yang suka menggambar sulit untuk membeli alat gambar, saya kelas 2 SD sudah dibelikan alat gambar lengkap. Waktu itu, crayon masih langka. Hanya ada di Gramedia. Bapak mengajak saya untuk memilih Krayon. Jelas waktu itu saya beli yang paling besar dengan alasan penghematan. Sejak kelas 2SD sampai kelas 4SD akhirnya saya mulai serius menggambar. Saya tidak les gamabar, tidak saama sekali. saya lihat TV di TVRI, waktu itu tiap Senin pukul 4 Sore ada Kak Heri dari Sanggar Pratista mengajari teknik menggambar dan mewarnai. saya mengikutinya dengan serius. Senang sekali rasanya bisa les di rumah. dan sekarang berbeda zaman, dengan terbiasanya dulu belajar tanpa tatap muka, sebagai ibu rumah tangga sekarang juga bisa belajar online dengan guru-guru hebat. 

Hasil belajar dari TV pun terbukti. Bapak mulai mengikutkan saya ke lomba-lomba. Awalnya juara harapan 7, lama-lama juara 1. Ketika kelas 4 SD, entah mengapa di Jogja, perlombaan menggambar menjamur waktu itu. Pernah dalam 1 hari saya lomba dua kali untuk lokasi berbeda. Alahamdulillah itu rejeki untuk saya.

Ternyata diam-diam bapak mengajarkan saya untuk mencari uang sesuai hobi saya.

Terkadang lombanya saya kalah, terkadang mendapatkan sebungkus susu, tapi juga pernah samapai 1jt rupiah. Ketika saya kalah, saya tidak merasa rugi. Bapak memang selalau mengosongkan waktu ketika saya lomba. Ketika waktu luang, saya diajak jalan-jalan melihat kontestan lain. Saya belajar banyak banyak dari mereka. Tekniknya saya tiru, peralatanya saya tiru. Jika peralatannya terlalu mahal, maka saya akan mencari pengganti lain. 

Menurut saya, kekalahan bukan kemenangan yang tertunda. Kekalahan hanya persepsi kita saja bahwa kita kalah. Seharusnya kita tidka perlu merasa kalah karena kita bisa belajar banyak dalam proses itu. Dan menang itu bonus. Kalah itu tidak ada.

Pernah suatu sanggar lomba menggerombol di suatu blok. Gambarnya bagus-bagus sekali. Tapi mirip-mirip jenisnya. Mereka menggunakan gliter sehingga gambarnya sangat menarik. saya juga ingin sekali menggunakan glitter. waktu itu ternyata di kotak lukis saya ada kutek bekas nenek saya berwarna pink menyala dan ada gliternya. Akhirnya saya menggunakan kutek itu. wah, hasilnya nggak kalah bagus.

TErkadang apa yang ada di sekitar kita itu fungsinya sama dengan barang orang lain. Nggak harus mahal, yang penting fungsinya sama.

"Belilah yang kamu butuh, bukan yang kamu mau"

Inilah yang selalau saya pegang. Ketika saya menjadi marketing suatu perusahaan, saya membeli smartphone agar komunikasi dengan klien lancar. Tetapi saya sekarang seorang istri yang sepertinya smartphone akan lebih banyak kerugiannya daripada manfaatnya. saya lebih membutuhkan laptop canggih yang bisa mendesain gambar di laptop sesuai pikiran saya dan koneksi internet yang cepat. 

Senangnya, suami saya juga ternyata orang yang pemikirannya sama. Dai hanya membeli barang-barang yang dia butuhkan. Tidak mau maju? Bukan, bukan tidak mau maju. Kami mau tetapi dengan cara kami. Kami lebih mau memaksimalkan membeli barang yang dapat menunjang pekerjaan dan hobi kami tanpa mengganggu ibadah kami. 

Ah, itu semua ternyata kebiasaan yang dibiasakan baak kepada saya dulu. Terimakasih bapak atas pembiasaannya. Menjadi orang yang pas menempatkan sesuatu sesuatunya. Walaupun engakau hanya PNS dengan istri ibu rumah tangga, tapi mengapa aku percaya engkau bisa menyekolahkan kami dan memberi fasilitas lengkap sesuai hobi kami, sesuai sekolah kami. 

TEimakasih bapak, atas gaya hidup sederhananya, tetapi mewah dalam hati kami. Kami tak pernah merasa kurang, termasuk mempunyai sosok bapak sepertimu....

Spesial untuk Bapakku yang di Sleman, Yogyakarta
Semoga Sehat Selalu....

Terimaksaih ilmu kehidupannya menjadikanku seperti ini :D

0 komentar:

Posting Komentar

 

Total Tayangan Laman

Live Traffic Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Komunitas Emak2 Blogger

Komunitas Menulis

Google+