Ketika Jawanese Bertandang ke Tanah Sunda 3



Anggap saja cerpen bagian 2, tapi lain cerita 

sepanjang malam ada gludug. Mungkin, sebenernya gludugnya biasa, tapi ntah kenapa saya nggak bisa tidur, inget Merapi. 

Waktu Merapi meletus,
Saya sedang bersama teman-teman relawan di UGM. Bapak saya bertugas di tanah suci. alhasil, Ibu saya dan kelima anaknya yang kecil-kecil di rumah. Yang bayi satu. Mobil tidak di rumah, dibawa ke daerah yang lebih utara oleh teman bapak untuk menyelamatkan beberapa korban. Bapak terus menelfon saya, bagaimana keadaan rumah. saya hanya memastikan semua baik baik saja. Kata ibuk persediaan makanan di rumah semakin tipis. Karena memang pasar-pasar sudah beberapa minggu tutup. Harusnya, malam ini saya pulang untuk membawakan beberapa amunisisi yang saya beli dari indo*****. ah, tapi nggak mungkin. saya berada10 km di selatan rumah saya. Semua orang mengarah ke selatan. Saya pun melanjutkan tgas bersama relawan UGM lainnya. Mendata dan membagikan logistik. Setiap melihat ibu dan anak, ingat ibu dan adik-adik saya. Betapa sebagai anak pertama saya tidak bertanggung jawab, tidak ada disana.

Waktu semakin malam, diumumkan bahwa dalam radius 20km harus bersih. Kawasan rumah saya ternyata yang harus mengungsi. Kata ibuk, tetangga sudah banyak yang mengungsi, semntara mobil belum juga pulang. Malah, banyak yang mengungsi di rumah dengan bermandikan abu. Kata ibuk, nggak mungkin pindah. Banyak yang membutuhkan rumah. 

Belum habis telfon dari bapak, saudara-saudara yang di Bantul, Gunung Kidul, Jakarta, Jabar, semuanya telfon saya. Memastikan sudah pindah atau belum. saya tidak ada di rumah. Saya hanya bisa memastikan semua baik-baik saja. 

Mungkin ini yang selama ini dirasakan bapak. Tidak boleh ikut panik, harus tetap tenang. WAlaupun sebenarnya ada pergolakan luar biasa di hati saya. Tapi justru sekarang bapak yang membuat saya panik luar biasa. Tenang pak, tempat kita masih aman.

"Mbak, tenang aja. cuma hujan krikil. Hii ngeri... Cuma mati lampu kok mbak, santai. Besok pulang ya. Jangan lupa bawa oleh-oleh, haha" kata adek saya yang usia 7 tahun lewat telfon, masih dengan bercanda. ah ibuk saya, masih bisa membuat suasana ini menenangkan untuk adik-adik saya.

Esoknya saya pulang. Ibuk dan beberapa orang yang megungsi bersiap ke tempat lebih selatan. Pakdhe saya yang jemput ibu saya. Mobil bapak entah kemana. Kata ibuk ikhlaskan saja. Padahal baru saja belinya, entah sudah lunas atau belum 

"Mobil bisa dicicil, keselamatan anak-anak harus harus dibayar kontan"

Saya tidak ikut. Ibuk juga percaya kepada putri suulungnya itu untuk mengabdikan diri jadi relawan daripada di rumah. Kata ibuk, adik-adik baik-baik saja. Alhamdulillah saya sangat lega.

Ternyata, sebegitu dahsyatnya efek Merapi terhadap saya. Mungkin terhadap anak-anak lainnya juga. Saya kan dah mahasiswa, kok masih anak-anak? 

Trauma tak mengenal usia  Gludug, hemmm.... Nggak papa kok kamu dateng, aku jadi makin cinta keluarga 21 Februari 2014-02-24

0 komentar:

Posting Komentar

 

Total Tayangan Laman

Live Traffic Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Komunitas Emak2 Blogger

Komunitas Menulis

Google+