Aku Ingin Anak Cowok


“Mas, aku habis telfon dari Jogja.” Aku menutup hp dan menyiapkan makanan kepulangan suamiku dari kerja.

“Gimana kabar Jogja? Udah beres abu Keludnya?” tanyanya sambil berlalu ke kamar mandi.

“Belum sekolah semua, mas. Oh ya mas, kata ‘Ilma ada tanda-tandanya lho, anak laki-laki sama perempaun.” Kataku sambil menarik kedua ujung bibirku.

“Ah, masak ‘Ilma. Yo nggak valid to yo. Nek dari ibumu, baru valid.” Katanya berlanjut sambil berlari mencari handuk.

“Ih, itu dari ibuk.” Kuberikan handuk kudorong keras ke dadanya.

“Au! Emang apa tanda-tandanya?” Papi imul mendekat tepat di hadapanku.

“Bauk bauk, mandi dulu, sana! Kata ibuk, kalau aku rajin, anaknya cewek. Kalau aku males, anaknya cowok!” aku mengambil masakanku untuk kuhidangkan ke suamiku sehabis mandi.

“Oh berarti anak kita cowok, donk. Kan kamu pemalas banget.” Katanya sambil mengernyitkan dahi.

“Ih, aku rajin tauk, mas.” Kataku lagi mengambil sapu, menyapu beberapa kotoran di teras rumah.

“Cantik, mau ngapain?” katanya dari dalam  kamar mandi.
“Nyapu, sayang.” Kataku keras-keras.
“Jangan cantik, kamu udah capek seharian urus rumah. Istirahat aja. Nanti capek, lho.” Katanya bergegas mandi, lalu keluar lupa menyampirkan handuknya.
“Sayang! Pake dulu handuknya! Iiihh!”
“Udah ah, langsung pakai baju, aja. Sayang,sini sapunya.” Dia pun menyapu teras secepat kilat bersih.
“Sayang aku laper, mana makananya?”
“Ini udah siap”
“Yang, kamu jangan capek-capek, ya. Dijaga kehamilannya. Nanti habis isya’ langsung bobo, ya.”
“Oke sayang”

***

Grujuk-grujuk, esrek esrek, pyar, krompyang, ssshhhhh
“sayang, kamu ngapain?”
“Mandi, sayang.... Hehe, ni sekalian cuci piring sama ngrebus air buat kamu mandi” mukanya penuh busa dan giginya berodol smabil mencucui piring.
“sayang, biar aku aja tauk.” Kataku bergegas menarik beberapa piring.
“ups, jangan! Kamu istirahat, aja! Nanti kalau air mendidih, aku bangunin, ya. Ni belum shubuh juga sayang.Oh ya, jangan masaka! Aku ada maskan spesial buat kamu.” Di menutup pintu kamar mandi dan sibuk di dalam.
“Aku pun tidur lagi, karena masih pagi sekali.”

**

“Sayang mandi, gih. Air sudah siap.” Katanya sudah berpakaian rapi, ganteng, wow! Daia sekarang bisa menanak nasi.
“Kamu rajin banget, sih sayang.”
Aku pun mandi dengan air hangat yang dispakan suami. Tak tanggung-tanggung, dia sudah menyiapkan di ember sekalia. Setalah mandi, kamipun sholat Shubuh. Hari masih pagi. Terlalu pagi utnutk memasak.
“Sayang, bobo aja, ya. Aku udah sekalian kukus ketela di magicom, kok. Ntar trus digoreng buat bekal. Bawnagnya berapa ya, sayang?”
“Yaudah aku racikin aja ya, sayang, bawang 3, bang merah 1. Garam secukupnya. Kayak buat tempe.”
“Sssuuut, kamu harus tidur pagi syang. Kasian dedek hammam nanti capek” Dia pun mengelus keningku hingga aku pun tertidur lagi.

**

Sayang, makanan udah siap! Ayo makan bersama. Akhirnya kami pun makan bersama. Dia berangakat ke kantor
Sudah 3 hari dia bertindak demikian. Pekerjaanku sangat ringan.

**

“Sayang, ternyata jadi cewek susah, ya. Coba tanya ibumu, yang pemalas itu boleh nggak kalau bapaknya?”
“Maksudnya?”
“Maksudnya, kamu tetep kayak biasanya aja, rajin. Aku mau jadi kayak biasanya, males-males sedikit, sayang. Kalau papanya males, anaknya juga cowok, kan?”
“Oh jadi selama ini kamu rajin biar aku males, ya? Biar aku anak kita cowok? Hahahaha, aku tertawa terbahak.
“Sayang, cepet, telfooon....”

Aku masih terbahak

0 komentar:

Posting Komentar

 

Total Tayangan Laman

Live Traffic Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Komunitas Emak2 Blogger

Komunitas Menulis

Google+