Balada Kontrakan : Nikmatnya Matematika Allah

Hari pertama suamiku kerja. Pagi-pagi, seperti biasa menyapkan segala keperluannya untuk ke kantor. Wajahnya masih kusut,. Katanya, dia memang kemarin lupa mandi. Hedeeeh, suamiku ini. Mungkin karena aku yang terlalu bersyukur punya dia kali ya. Jadi saya sampai nggak perhatiin kalau belum mandi. Walaupun belum mandi, suamiku ini wajahnya masih puth, senyumnya masih merah kayak buah tomat, matanya bersinar kayak bintang, dan begitulah suami saya. Padahal, kemarin saya silaturahmi ke beberapa tempat lho. Pertama ke bapak kontrakan. Awalnya sih mau bayar kontrakan, eh ternyata dapat sayaur mayur gretongan. Ternyata eh ternyata, si bapak ini juragan sayuran.

"Sok atuh ambil sayuran di depan. " Kata bapak kontrakan dengan ramah. "saya dulu waktu ngerantau juga banyak ditolong sama orang Jawa. Sekarang kalian teh  kesini juga saling bantu atuh." Kata bapaknya lagi sambil menggendong anaknya yang habis mandi dan memberikan ke ibu kontrakan.

Saya yang emang belum ada bahan makanan sih senang-seneng aja. Tapi sebagai orang Jawa asli, turunan Jogja-Solo lagi, harus malu-malu tapi mau.

"Tapi ya harus bayar atu Mang" suamiku yang malu-malu tapi mau sok jual mahal. Sebenarnya di rumah ada bahan makanan, sih. Tapi baru ada seperempat kg bawang merah, kerupuk tiga bungkus, dan sayur matang dua bungkus. Itu belinya juga karena kasihan ada nenek-neke dan mas-mas yang nggak laku jualannya. Suami itu orangnya nggak tegaan banget. Kalau kalian pura-pura jadi orang susah, dateng ke rumah, pasti dibantuin deh sama dia. Masa, u 3 bungkus 11rb? Hedeeh... sebagai wanita yang perhitungan dan amanah menjaga nafkah suami ya marah donk ya. Itu kan mengahmbur-hamburkan harta? Haha.. Dan ternyata, berkat keikhlasan suami saya, Allah secara cepat membalas kebaikan suamidengan sebungkus plastik besar, gratis, bahan makanan dan sayuran!!

Keren nggak, tuh!

emang nih, matematika sedekah itu nggak ada duanya. sejak saat itu aku nggak mau itung-itungan lagi, deh. Hehe. Baru tobat saya,

"Cantik, besok masakin tumis jipang (labu siam) yang dikasih Mang Ujang, ya" katanya sambil menarik bibirnya pamer gigi pula.

"Iya, sayang." kataku juga sambil memaerkan gigi.

"Bisa kan cantik?" tanyanya sambil mengernyitkan dahi.

"Ya bisa donk" jawabku singkat sesingkat langkahku menuju ke laptop buat browsing langkan membuat tumis labu siam.

Bla bla bla. Langsung kutulis dan ku cek semua bumbu-bumbu. Yang belum ada ebi, cabe rawit, gula pasir, sama lengkuas, nih. duh, belanja nggak, ya?

"Kenapa cantik, kok gelisah, gitu?" dagunya sudah menempel di pundakku yang empuk.

Suamiku mengambil catatan kecilnya tersenyum dan mengajakku besok pagi-pagi belanja ke pasar. Aku senangnya bukan kepalang. Tapi sebelum tidur, suamiku menita merekap semua pengeluaran tiga hari ini. dua hari yang lalu saat masih di Jogja, kemarin, dan hari ini. Dag dig dug.

Wow!

Pengeluarannya sampai 3juta? aku menyerahkan rekapan ke suami. Memang pengeluaran kita banyak, selain biaya transportasi, biaya untuk beli perabot lah yang paling menguras habis. aku pun menghitung uang yang tersisa. Per hari kita bisa hanya boleh mengahabiskan uang maksimal 23.000 rupiah. Keren! Suami menyetujuinya, dan aku pun tidur, suami liat streeming bola Mancester United.

Matematikanya memang 23.000 maksimal pengeluaran kita, tapi sebnarnya sayuran sudah tercover dari Mang ujang. Lumayan untuk beberapa hari. Matematika kita emang boleh lah untuk ngrencanain, tapi matematika Allah jauh lebih bijak mengatur keuangan kita

Please, jangan takut sedekah!!

0 komentar:

Posting Komentar

 

Total Tayangan Halaman

Live Traffic Blog

Institut Ibu Professional

Institut Ibu Professional
Klik gambar untuk mengetahui kegiatan yang berhubungan dengan IIP

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Komunitas Emak2 Blogger

Komunitas Menulis

Google+