Gurita Sayang Ibu


Tangan Gurita gemetaran, berat sekali untuk menggoreskan. “Pakai pensil atau langsung spidol, ya?”, Gurita bingung. “Ibu, kesini, donk!” gumam Gurita ingin menitikkan air mata. Gurita bingung, takut salah. Ibu Gurita ada di pojok sana sambil tersenyum. Bibirnya menggerakkan sesuatu, mungkin seperti biasanya, menggambarlah sesuai apa yang Gurita suka. Ibu Gurita yang selalu menganggap Gurita bisa semuanya. Gurita benar semuanya. Apa yang Gurita suka, maka benar menurut Ibu Gurita.
**
“Ibu, Gurita nggak bisa nggambar, tolong buatin, ya. Besok itu tentang pemandangan.” Rengek Gurita kepada ibu sambil menyiapkan meja, buku gambar, dan pensil warna.
“Buk, jangan lupa, ya. Gurita mau ngerjain PR dulu.” Kata Gurita sambil membuka meja Gurita untuk mengerjakan PR. Gurita tahu ibu sedang sibuk, tapi biarlah. Segala urusan yang berhubungan dengan menggambar Gurita tak suka. Rasanya sudah stress kalau melihat buku gambar, pengennya buat orang lalu mencoret-coretkan warna hitam di mukanya. Selesai!
“Katanya bikin PR, kok  malah mencoret-coret hitam begitu?” ibu tidak sengaja mengagetkanku.
“Ibu, Gurita nggak bisa menggambar, tolonglah. Gurita benci menggambar.” Gurita tetap malas dan tetap tidak mau menggambar.
“Ah, ini memang kebiasaanku dari kelas satu, Gurita malas sekali menggambar dengan banyak aturan. Gurita mulai melirik ibu, beliau baik sekali masih mau menggambarkan untuk Gurita. Dua tahun lho. Kalau waktu TK kan enak, nilai hanya A, B, dan C. Meskipun tidak pernah A tapi juga tidak pernah C. Gurita menggambar dan mewarnai dengan leluasa. Rambut berwarna hijau, daun pinkterserah. Ups, bukannya di Jepang pohon warnanya pink, kalau musim salju pohon warnanya putih. Ah, mengapa pohon harus hijau? Itu kan hanya di Indonesia? Mengapa wajah nggak boleh hitam pekat? Bukannya di TV banyak  yang ada orang kalau senyum aja hanya kelihatan giginya? Dunia menggambar itu tidak adil. Mengapa pemandangan harus ada gunung, sawah, jalan, dan sungai. Bukannya laut juga pemandangan? Tadi, ada pelajaran menggambar pemandangan, Gurita menggambar pemandangan laut. Banyak ikan terumbu karang, tapi katanya bukan. Ah, Gurita benci menggambar!” Gumamnya dalam hati sambil mencoret-coret buku PRnya.
Seminggu kemudian Gurita berangkat dengan percaya diri sambil membawa gambar buatan ibu. Sebuah pemandangan yang indah sesuai standar guru menggambar Gurita. Bisa ditebak, gambar Gurita tak tanggung-tanggung, dapat nilai sembilan.
“Gambarmu bagus sekali, besok minggu ikut lomba menggambar, ya!” minta guru Gurita mantap.
“Enggak mau, bu.” Gurita menunduk takut. Itu kan gambar ibu Gurita. Gurita semakin takut. Menunduk tetapi tidak mau mengaku kalau digambarkan. Gurita hanya bisa menggambar sesuai yang Gurita suka. Itulah aturan ibu, membebaskan menggambar sesuai imajinasi Gurita. Yang penting Gurita suka, ketika kau sudah suka, maka pertauran apapun akan mudah Gurita serap. Guru terbaik memang ibu, mengapa bukan ibu yang jadi guru? Kata ibu karena ibu tak punya ijazah. Gurita rasa ijazah guru tidak menentukan cara mengajar enak atau tidak. Gurita hanya bisa menggambar ala ibu, dengan aturan ibu. Menggambar sesuai apa yang Gurita suka.
**
Gurita ingat kata ibu. Gurita menggambar sesuai apa yang Gurita suka. Pemandangan temanya, dan Gurita tetap mau menggambar ikan. Ikanku bisa senyum, nyengir, tertawa, cemberut, bahkan ada yang kentut. Bukannya Nemo juga bisa nyengir? Sponge Bob juga bakai baju? Padahal di dunia nyata tidak ada. Di laut terumbu karang banyak warnanya. Jadi, Gurita bebas mewarnai pohon Gurita. Warna laut juga bebas donk, dari bawah biru, trus ke atas hijau, trus keatas lagi coklat. Kan Indonesia banyak sampahnya. Gurita gambar juga sampah, sampahnya dibagian atas. Selesai, deh! Gurita melihat ibu lagi. Masih berdiri menemani ibu Gurita di ujung sana sambil tersenyum. Ibu guru Gurita sepertinya pulang. Mungkin ada pelajaran menggambar yang harus diajar. Gambar Gurita kumpulkan ke panitia. Gurita menemui ibu. Gurita menceritakan gambar apa yang Gurita gambar. Ibu menanyakan apakah Gurita mau menunggu atau tidak, kata Gurita tidak. Gurita yakin tidak menang karena hampir semua menggambar gunung atau pohon. Pastilah Gurita tidak menang. Gurita puas sekali bisa menggambar sesuai dengan kemauan dan kemampuannya. Dan yang pasti, Gurita suka dengan style ibu itu.
“Juara 1, dengan tema pemandangan laut. Mohon maaf, namanya tidak tercantum. Bisakah maju ke depan, punya siapa ini, ya? No peserta 57.” Suara seorang wanita terdengar dari sound system tepat di samping Gurita mengagetkannya. Keras sekali.
“Gurita, kamu nomor 57, sayang. Kamu lupa kasih nama?” Ibu menunjuk no peserta yang ada di dada Gurita.

 “Oh, iya. Iya, itu Gurita. Hahaha. Habis tadi tegang banget buk. Lupa deh belum kasih nama. Gurita ambil hadiahnya dulu. Hore, Gurita menang!” Gurita lari menuju kepanggung. Terimakasih bidadariku yang selalu membebaskanku  menggambar apa yang Gurita suka. Gurita sayang ibu.


0 komentar:

Posting Komentar

 

Total Tayangan Halaman

Live Traffic Blog

Institut Ibu Professional

Institut Ibu Professional
Klik gambar untuk mengetahui kegiatan yang berhubungan dengan IIP

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Komunitas Emak2 Blogger

Komunitas Menulis

Google+