Menikah Tanpa Kebaya


“Kebaya mu mana, dek?” sesaat yang merias bertanya.
“Saya nggak pakai kebaya, saya pakai gamis aja. Panas.” Jawabku yang memang tidak suka dengan kebaya.
“Nggak niat banget nikahnya”seseorang menimpali dari belakang.
***
Memang terkesan unik nikahku bagi beberapa orang. Tapi, tidak denganku. Aku ingin menikah dengan cara seperti ini. Tidak, sebenarnya aku ingin yang  lebih sederhana dengan ini.
Aku mengonsep sendiri pernikahan. Tanpa sumbangan. Yap, aku tidak mau pernikahanku ternoda karena sumbangan teman-teman bapak, bu, tetangga, atau bahkan teman-temanku yang sebenernya kurang mampu. Apalagi aku pernah survey, banyak yang berhutang hanya karena kasus sumbangan. Aku hanya ingin berbagi kebahagiaan. Yang pertama, tanpa sumbangan. Kalau bisa berbagi donk, bukan dengan sumbangan sama sekali.
Aku ini orangnya simpel romantis. Pegen bangen buat yang seromantis mungkin. Hamparan sawah yang hijau kekuning-kuningan. Dengan gunung merapi di belakangnya, membuatku ingin sekali berfoto untuk terakhir kalinya. Aku tak tahu, apakah ketika sudah punya anak nanti, aku masih bisa mendapatkan pemandangan sesejuk itu lagi. Sempat ada debat, antara yang dekor dan aku, katanya, nggak banget kalau nggak ditutupi. Tapi, menurutku aku suka sawah itu, aku suka gunung itu. Aku tumbuh di desa ini sejak usia 5 tahun hingga dewasa. Tapi saat bahagia adalah ketika aku dan teman-teman sengaja pulang tidak melewati jalan raya tetapi melewati sawah dan sungai. Terkadang harus melepas sepatu untuk menyeberang sungai kecil. Belum kalau musim ikan, aku mampir dulu untuk mencari ikan. Dan itu sangat menyenangkan.
Kalau gunung, setiap minggu aku selalu mengeluarkan meja gambar kecilku untuk menggambar gunung itu. Kata orang, pemandangan itu tidak selalu tentang gunung. Tapi bagiku, gunung di depan rumah yang gagah itu tetap yang paling menwan. Kamu tahu tidak, gunung kenapa suka marah? Mungkin karena kamu tak mencintainya, seperti aku mencintainya. Itu mengapa gunung tak pernah menyakitiku. Gunung lah yang tahu, aku mencintainya dan selalu menggambar dari kejauhan tanpa aku harus memberitahunya bahawa aku mengaguminya. Maka dari itu, di saat pernikahan ini, aku ingin kau tahu gunung, bahwa ada laki-laki yang akan membawaku pergi. Dan aku tak bisa memandangimu lagi seiap hari. Gunung, kalau kamu marah, kasih tahu dulu, ya? Aku tahu kok, kamu hanya ingin membuat subur daerah kami. Tapi kadang, perkataanmu itu membuat kami takut. :D
Konsep nikah kami adalah pengajian biasa. Ya, pengajian biasa bagi yang menganggap itu biasa. Sebenarnya, ini pengajian yang luar biasa ketika suamiku berjanji tawadhu. Selalu sederhana dibalik kesuksesannya. Aku juga ingin pernikahan ini sesukses beliau. Berjalan dengan sederhana tapi mempunyai arti yang luar biasa.
Saksi dari pernikahanu teman bapak yang kebetulan jadi Bupati Sleman sekarang. Walaupun Bupati, tapi bapak ini nggak sombong. Nggak meninggi. Bahkan duduk berjajar dengan kami biasa saja. Ya karena memang undangan ini bukan untuk bupati, tetapi untuk sahabat bapak yang kebetulan jadi bupati.
Tamu-tamu bapak, kyai kyai, ketuai MUI, IPHI, dan organisasi ulama lainnya datang dengan gamis putih dan peci. Ganteng-ganteng semua. Aku ingin acara ini benar-benar untuk Allah, ibadah untuk Allah, sederhana, dan sesuai syariat. Aku rasa, kemarin nggak ada sama sekali yang buka aurat. Apalagi pamer baju bagus, karena memang hanya pengajian. Hanya? Ini tidak hanya. Ini sambutan yang full untuk Allah. Aku mengonsepnya untuk Allah secara matang. Aku ingin, Allah disini menemaniku untuk benar-benar menemaniku. Ini lho jodohku, yang akan menjagaku. Allah, Engkau senang kan dengan pengajian ini?
Riasanku sudah selesai. Riasanku memang sederhana. Bajuku pun gamis biasa yang kupinjam dari ibuku. Haha. Aku memang bukan orang yang terlalu repot  untuk masalah baju. Yang penting menutup. Juluran jilbab pun besar sehingga bapak tak perlu khawatir melepaskanku gadisnya, dan suamiku tak perlu khawatir juga menerimanaya. Permulaan yang baik, insya Allah berjalan dengan baik. Bismillah, semoga aku bisa menjaga aurot samapai nanti.....
Perlahan kudengar ijab qobul suamiku dengan suara lantang. Aku meteskan air mata. Walaupun menikah tanpa kebaya, menikah ini begitu sakral dan agung.  Allah berasa dekat denganku.  Alampun ikut bahagia. Titik hujan menyambutku, dan ternyata menikah tanpa kebaya itu sangat romatis.Nggak ribet dandanya, nggak ribet ritualnya, dan nggak ribet sesek makenya.  Makasih Allah :D

mau lihat suasana pernikahanku? di liyaswandari.tumblr.com/




0 komentar:

Posting Komentar

 

Total Tayangan Laman

Live Traffic Blog

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Komunitas Emak2 Blogger

Komunitas Menulis

Google+